JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah potensi padi di Indonesia, tidak lepas dari ancaman penyakit tungro yang dapat menyebabkan puso. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi hal tersebut, termasuk penemuan varietas tahan tungro maupun teknologi pengendalian lainnya. Dr. Fauziah T. Ladja selaku Kepala Loka Penelitian Tungro (Lolit Tungro) menyampaikan bahwa meskipun penyakit tungro bukan penyakit padi yang menempati urutan pertama, akan tetapi ancaman kerugian yang dapat ditimbulkan tentunya memerlukan perhatian khusus. Sehingga hal ini yang mendorong Kepala Lolit Tungro untuk melakukan sosialisasi terkait penyakit tungro dan cara cepat mendeteksi penyakit ini. Dengan demikian dapat membantu petani dan petugas dalam melakukan pengendalian secara tepat dan akibat yang tidak diinginkan dapat dihindarkan.

Kegiatan Sosialisasi Penyakit Tungro tersebut yang dilaksanakan di BPTP Sulawesi Tengah pada hari Kamis (7 November 2019), dihadiri oleh peneliti, penyuluh dan teknisi BPTP Sulawesi Tengah. Dr Fauziah menjelaskan bahwa penularan penyakit dilakukan oleh wereng hijau terutama Nephotettix virescens dengan menunjukkan gejala spesifik dari penyakit ini adalah daun berwarna kuning cerah yang dimulai dari daun ke-2 atau ke-3 dari pucuk, daun pucuk seperti terpelintir berlawanan arah jarum jam. Penyakit ini juga mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi lambat, anakan sedikit dan tanaman kerdil tapi tidak kaku. Gejala tersebut perlu dikenali dengan baik, karena sepintas gejalanya mirip dengan gejala penyakit lainnya ataupun gejala kekurangan unsur hara.

Badan Litbang Pertanian melalui Lolit Tungro telah melakukan berbagai metode pengujian deteksi tungro, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Salah satu metode yang efisien dan memiliki keakuratan yang dikembangkan adalah dengan menggunakan  metode Loopmediated isothermal Amplification (LAMP). Metode ini dapat mendeteksi dengan cepat dibandingkan dengan metode lainnya yang telah digunakan oleh Lolit Tungro, virus tungro yang menyerang tanaman akan terdeteksi dengan cepat (dalam waktu singkat <2 jam). Metode ini juga telah diaplikasikan untuk mendeteksi virus CVPD yang menyerang tanaman jeruk.

Selain penggunaan metode LAMP, Lolit Tungro juga memperkenalkan varietas padi tahan tungro, atau dikenal dengan TARO (tahan tungro), seperti Inpari 36. Penerapan teknologi dalam pengendalian tungro mutlak dilakukan, dan dianjurkan untuk menerapkan system Jarwo 2:1 Bio Taro. Komponen teknologi yang termasuk di dalamnya adalah penggunaan varietas tahan tungro (Taro), melakukan sanitasi lingkungan, sistem tanam jajar legowo 2:1, penggunaan tanaman refugia, pengendalian OPT dengan prinsip pengendalian hama terpadu (PHT).

Kegiatan ini dilanjutkan dengan sosialisasi di tingkat kecamatan dan pengambilan sampel tanaman padi di wilayah Kabupaten Sigi meliputi Kecamatan Kulawi Selatan dan Palolo. Sosialisasi lainnya berlangsung di Balai Karantina dan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako dengan dihadiri oleh penyuluh, petugas OPT, dosen dan mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut diharapkan petani dapat panen dengan hasil optimal, untuk meningkatkan kesejahteraannya, dan mendukung program pembangunan pertanian dalam upaya meningkatkan produksi guna mencapai swasembada pangan. #Jayalah Pertanian Indonesia

Percepatan dan pendampingan teknologi pada kegiatan Obor Pangan Lestari (OPAL) di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah Tahun Anggaran 2019 perlu segera dilakukan. Hal ini merupakan hasil kesepakatan dan kesimpulan rapat evaluasi pelaksanaan OPAL dilingkup pertanian tahun 2019 yang dilaksanakan di ruang rapat Kepala Dinas Pangan Provinsi Sulawesi Tengah, 06 November 2019. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa dinas terkait yaitu Dinas Pangan Sulawesi Tengah, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah, Balai Karantina Sulawesi Tengah, dan BPTP Sulawesi Tengah.

Rapat dibuka oleh Kepala Dinas Pangan Sulawesi Tengah (Ir. H. Abdullah Kawulusan, M.Si). Dalam rapat tersebut terungkap beberapa masalah yang dihadapi oleh masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD), diantaranya baru dibukanya pemblokiran dana OPAL, tidak tersedianya bahan yang dibutuhkan, khususnya teknologi hidroponik di wilayah Sulteng, keterbatasan keterampilan dan sumberdaya manusia pengelola OPAL. Untuk itu, perlu dilakukan percepatan dan pendampingan teknologi, agar pelaksanaan kegiatan OPAL dapat berjalan sesuai target. Peran BPTP Sulawesi Tengah dalam pendampingan teknologi sangat dibutuhkan, utamanya membantu penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sesuai syarat teknis, membuat model OPAL berdasarkan karakteristik lingkungan instansi dan penciptaan media hidroponik spesifik lokasi dengan menggunakan bahan yang tersedia di lokasi. Kegiatan OPAL akan dievaluasi setiap minggu, agar perkembangannya dapat diketahui. Jayalah Pertanian Indonesia.

Makassar - 5 dan 6 November 2019, Universitas Hasanuddin melalui Fakultas Peternakan menggelar The 2nd International Conference of Animal Science and Technology (ICAST) 2019 dengan tema “Sustainable Animal Production and Welfare in the Tropical Environment”. ICAST II 2019 ini diadakan di Hotel Swiss Bel Makassar. Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai narasumber dari luar negeri diantaranya ialah Prof. Dr. Danilda Hufana Duran, Prof. Dr. Metha Wanapat, Dr. Drh. Gozali R. Moekti, M.Sc dan Dana Chow, MBA. Sedangkan narasumber di dalam negeri diantaranya ialah Prof. Dr. Ir Cece Sumantri, M.Sc, Prof. Ir. Burhanuddin Sundu, M.Sc, Ph.D, Dr. Ir. Syahruddin Said, M.Agr. Sc dan Ir. Teddy Cadinegara.

Salah satu kegiatan pada ICAST 2019 ialah Workshop Protein Analysis and Determination of Sperm Sex Potion Using Real Time PCR (qPCR) yang dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin. Peserta workshop tidak hanya diberikan materi terkait dengan cara mendeteksi DNA, tetapi juga melihat proses mendeteksi DNA dengan dua cara DNA Binding Flourescent Dyes dan juga Flourescent Dyes Labeled Probes yang dianalisis menggunakan metode qPCR. Praktek Analisis dilakukan menggunakan metode qPCR (Polymerase Chain Reaction) untuk pemeriksaan Prinsip Kerja memperbanyak DNA invitro secara Enzimatis. Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah juga ikut menghadiri kegiatan workshop, beliau juga menyambut positif dengan adanya kegiatan workshop ini, karena dengan adanya inovasi teknologi di Sektor Peternakan nantinya dapat mendukung di dalam memajukan sektor peternakan di dalam negeri. Jayalah Peternakan Indonesia. (NMR)

Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional merupakan kegiatan pengembangan pertanian yang dilakukan secara utuh dan terpadu yang dirancang guna mendorong keberlanjutan komoditas unggulan suatu daerah. Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah yang mengembangkan  komoditas unggulan tanaman pangan jagung dalam pengembangan kawasan pertanian. Sumber daya alam, manusia, serta pasar Kabupaten Sigi berpotensi untuk pengembangan komoditas jagung. Namun demikian ada beberapa permasalahan dalam pengembangannya antara lain adanya fenomena serangan hama jagung baik hama yang baru maupun yang sudah ada sebelumnya di Kabupaten Sigi, yang juga telah terjadi di wilayah lain seperti Kota Palu, Kabupaten Donggala, Buol, serta Tojo Una-Una.

Kondisi saat ini, dimana telah terjadi serangan hama ulat pada pertanaman jagung di beberapa wilayah Kabupaten Sigi maka memerlukan penanganan yang serius baik pencegahan maupun pengendalian yang tepat. Hal tersebut melatar belakangi dilaksanakannya pelatihan pengendalian hama dan penyakit jagung  pada Rabu 6 November 2019, bertempat di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Mantikole. Peserta pelatihan sebanyak 50 orang, terdiri dari pengurus kelompoktani se Kecamatan Dolo Barat yang berasal dari 12 desa, Gapoktan dan kelompok tani Desa Pesaku dan penyuluh pertanian BPP Dolo. Kegiatan pelatihan ini sebagai pembelajaran secara bersama tentang hama dan penyakit pada tanaman jagung yang sedang banyak terjadi di lapangan saat ini. Pelatihan ini dilaksanakan di BPP berdasarkan BPP sebagai wahana pembelajaran penyuluh dan petani untuk membahas masalah, kendala dan potensi di Wilayah Binaan (Wibi). Media pertemuan ini sekaligus sebagai tempat saling sharing pengetahuan dan pengalaman penyuluh dan sebagai salah satu ajang silaturahmi penyuluh dan petani.

Peneliti BPTP Balibangtan Sulawesi Tengah (Ir. Abdi Negara, MP) bersama penyuluh BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah (Dr. Herawati, SP., MSi) menyampaikan bahwa salah satu faktor penghambat peningkatan produksi pada tanaman adalah adanya serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat merugikan sampai dengan puso atau gagal panen. Beberapa jenis hama yang merusak tanaman jagung, gejala kerusakan dan cara pengendaliannya disampaikan pada pertemuan tersebut. Selain itu, disampaikan pula bahwa ada beberapa gejala kerusakan pada tanaman yang hampir mirip termasuk gejala kekurangan unsur hara seperti N, P dan K. Sehingga petani perlu diberikan pengetahuan guna mengenali gejala kerusakan sehingga dapat melakukan pengendalian secara tepat sasaran.

Koordinator penyuluh BPP Mantikole menyatakan sangat senang dengan adanya kegiatan pelatihan ini karena sangat bermanfaat khususnya sekarang ini karena di wilayah Kecamatan Dolo Barat telah ada serangan ulat Spodoptera sp. di beberapa lokasi. Peserta sangat antusias dialam berdiskusi dengan narasumber dan juga menyampaikan bahwa materi ini sangat menarik dan dibutuhkan oleh penyuluh dan petani. Harapan penanggung jawab kegiatan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional, Dr. Heni Sulistyawati bahwa melalui pertemuan ini para penyuluh dan perwakilan petani (pengurus kelompoktani) yang telah memperoleh pengetahuan tersebut dapat menyampaikan kepada kelompoktani di wilayah binaan masing-masing. Petani senantiasa melakukan pemantauan di lapangan dan berkoordinasi intensif dengan petugas pengamat hama maupun penyuluh di lapangan agar populasi serangga yang berpotensi sebagai hama dapat tertangani sejak dini, dengan demikian dapat menghindari terjadinya ledakan hama. Dengan pengetahuan dan kewaspadaan maka dapat terhindar dari kerugian akibat serangan hama dan penyakit, yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan produksi. #Jayalah Pertanian Indonesia.