JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Dalam Upaya Mendukung Program Strategis Kementerian Pertanian yaitu UPSUS PAJALA di kabupaten Donggala dilaksanakan Gerakan Panen Raya Padi Sawah di wilayah poktan Hidup Bersama Desa Lalombi Kecamatan Banawa Selatan. Keterbatasan sarana dan prasarana di wilayah poktan tersebut tidak menjadi kendala bagi mereka untuk mencapai hasil panen padinya. Hal ini terbukti dengan hasil ubinan 5,7 ton/ha. Hamparan seluas 157 ha ini hanya mengharapkan pengairan irigasi desa yang bersumber dari sungai setempat. Kegiatan ini di awali dengan panen raya oleh para pejabat dan dilanjutkan dengan Temu Wicara bersama poktan dan Gapoktan sekecamatan Banawa selatan. Selain yang mewakili Bupati Kegiatan ini dihadiri pula BPTP Balitbangtan, Kadis TPH Provinsi, Kadis TPH dan Perkebunan Kabupaten Donggala, Dandim 1306 Donggala, DPRD Donggala, Camat, Kapolsek, Kepala BPP dan Penyuluh, Poktan/Gapoktan Desa Lalombi dan Tokoh masyarakat setempat. Bupati Donggala yang di wakili oleh Asisten III Bidang Adminstrasi Pembangunan dan Perekonomian dalam sambutannya menyampaikan bahwa di Kabupaten Donggala pada tahun 2017 untuk komoditi padi sawah luas panen mencapai 23.414 Ha dan produksi padi mencapai 104.000 ton GKG atau setara dengan 53.370 Ton, sedangkan kebutuhan konsumsi beras dari 293.742 Jiwa sebesar 40.830 ton, sehingga pada tahun 2017 Kab. Donggala Surplus beras sebesar 12.006 Ton. (sumber data BPS 2017). Namun di katakan bahwa dari hasil tersebut bukan berarti kita berleha-leha untuk tidak memperhatikan LTT. Harapannya setelah panen ini segera dilakukan penanaman kembali untuk mengejar ketertinggalan LTT di bulan Mei di kabupaten Donggala. Kepada BPTP selaku lembaga teknis Bupati mengharapkan dukungan berupa perbenihan dan pelatihan teknis kepada poktan di wilayah kabupaten Donggala dan khususnya poktan Hidup Bersama. Kadis TPH dan Perkebunan Donggala dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada tiga tujuan Pelaksanaan Kegiatan Upaya Khusus (UPSUS) Padi Jagung dan Kedelai di Kabupaten Donggala yaitu : Pertama, memantapkan koordinasi dan sinkronisasi dalam pengelolaan data di tingkat kabupaten, kecamatan dan kelurahan/desa dan dipastikan data tersebut tervalidasi oleh BPS, Kedua, meningkatkan produksi padi dalam rangka menunjang swasembada pangan mendorong peningkatan penerapan teknologi sesuai anjuran di tingkat usaha tani; dan Ketiga, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Dengan demikian kami berharap kedepan Kabupaten Donggala bisa lebih maju dan dapat  ditingkatkan sehingga surplus beras yang telah di capai dapat dipertahankan. Harapannya semangat panen hari ini akan lebih bersemangat lagi gerakan tanam berikutnya. Apresiasi yang tinggi terhadap poktan Bina bersama atas semangatnya dalam berusaha tani meskipun mengalami banyak kendala terutama serangan OPT pada MT ini dan keterbatasan pengairan yang belum memadai. Kepada BPTP beliau berniat akan melakukan sharing kegiatan dalam hal pelatihan teknis tentang pengendalian OPT padi. Keterbatasan pengairan dalam dua tiga hari kedepan akan dipenuhi dengan bantuan pompa air sebanyak 4 unit. BPTP balitbangtan Sulawesi Tengah yang di wakili oleh Ibu Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian Syamsyiah Gafur, SP, M.Si dalam acara Temu wicara menyampaikan hal-hal yang menyangkut teknis terutama dalam pengendalian OPT padi sawah. Hal ini di lakukan atas dasar permintaan poktan Hidup Bersama melalui Kadis TPH dan Perkebunan Bapak Hary Soetjahjo, S.Pt. Dan selanjutnya Ibu KSPP menyampaikan kesanggupan dalam pembinaan teknis poktan dalam beberapa waktu kedepan. Kegiatan ini di akhiri dengan peninjauan kelompok Desa Mandiri Benih di Desa Lumbu Tarombo.
Jayalah pertanian Indonesia

Upaya mendorong dan mempercepat keberhasilan pelaksanaan UPSUS Pajale mencapai peningkatan produksi tanaman pangan, pemerintah memfasilitasi penyediaan alat dan mesin pertanian (Alsintan). Alsintan merupakan kebutuhan yang substantial mengingat sekitar 40% dari biaya produksi merupakan biaya tenaga kerja yang dapat diefisienkan. Lebih lanjut ketersediaan tenaga kerja di beberapa wilayah saat ini tidak bisa memenuhi kebutuhan sehingga ketersediaan alsintan sangat diperlukan. Namun demikian beberapa masalah terjadi di lapangan sehingga perlu upaya optimalisasi alsintan. Oleh karena itu pada Hari Selasa 8 Mei 2018 dilaksanakan Rapat Koordinasi Optimalisasi Alsintan Mendukung Program Upaya Khusus Propinsi Sulawesi Tengah. Pada kesempatan tersebut dihadiri Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasinal selaku Penanggung jawab Upsus Sulawesi Tengah, Kepala BBSDLP, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura yang diwakili Kepala Bidang Tanaman Pangan Propinsi Sulawesi Tengah, Danrem 132/Tadulako, Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah, Peneliti/penyuluh BPTP Sulawesi Tengah. Dr. Ir. Mat syukur, MS selaku  Penanggungjawab UPSUS wilayah Sulawesi Tengah dalam arahannya menyampaikan bahwa Menteri Pertanian memperhatikan pada permasalahan petani pada level bawah terutama pada dua hal yiatu irigasi dan alsintan. Guna mengatasi permasalahan optimalisasi alsintan di lapangan, perlu inisiasi  berupa mapping jenis dan lokasi serta berapa kebutuhan untuk mengetahui konsentrasi penggunaan alsintan. Kuesioner kebutuhan alsintan diperlukan untuk mendapatkan data yang detil sehingga pengadaan alsintan ke depan menyesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi petani. Sejalan dengan itu Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr selaku Penanggungjawab Optimalisasi Penggunaan Alsintan Sulawesi Tengah menyatakan Menteri Pertanian berpesan agar alsintan baik dari DAK Kementan, APBD Propinsi maupun swasta diefektifkan untuk meningkatkan produksi pertanian, mempercepat luas tambah tanam, dan panen pajale yang selanjutnya akan terindikasi pada laporan KCD ke BPS. Kekurangan tenaga kerja khususnya di luar Pulau Jawa bisa diantisipasi menggunakan alsintan selain dapat menghemat biaya tenaga kerja sampai dengan 20%. Salah satu upaya optimalisasi kegiatan penyediaan alsintan  adalah mengekfektifkan penggunaan alsintan yang mangkrak dan mengetahui permasalahan di lapangan seperti ketrampilan dalam pengoperasian dan perawatan. Dibutuhkan informasi/data lokasi alsintan yang mangkrak dan penyebab mangkraknya alsintan tersebut. Di sisi lain Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah (Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak, S.Pt.,MP), menyatakan bahwa rapat koordinasi optimalisasi alsintan dimaksudkan untuk mempercepat dan mendukung pencapaian potensi panen di bulan Mei dimana ditarik dari waktu tanam pada Bulan Mei potensi panen sebesar 25.496 hektar. Seiiring dengan itu Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sulawesi Tengah (Ir. Retno Erningtyas, MSi.) menyatakan bahwa upaya Penambahan Areal Tanam Baru (PATB) saat ini diprioritaskan di lahan kering, karena lahan padi sawah terkendala pada irigasi. Data di lapangan terjadi kekurangan alsintan di beberapa lokasi antara lain kekurangan alat tanam di Desa Simpang Raya Kabupaten Banggai, sehingga memerlukan pendataan kembali kebutuhan alsintan. Combine harvester ukuran kecil belum dimanfaatkan secara optimal karena tidak efektif untuk lahan sawah dan lebih diprioritaskan pada lahan kering. Kebutuhan alsintan lain yaitu alat panen jagung dan kedelai yang lebih modern, serta dryer untuk mempercepat pengeringan dan mengantisipasi curah hujan yang tinggi.Sementara itu Danrem 132/Tadulako (Letkol Inf. Sampang Sihotang), mengharapkan adanya sinergi untuk mengefektifkan kerja brigade alsintan dalam mensukseskan target-target Kementan. Rakor ini menghasilkan kesepakatan untuk melakukan pendataan alsintan di setiap kabupaten dan membuat laporan pemanfaatannya. Selanjutnya untuk memanfaatkan alsintan tersebut perlu dilakukan pelatihan dalam operasionalisasi di lapangan/lahan pertanian yang disesuaikan dengan musim tanam dan musim panen, serta dikoordinasikan kepada BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah.

Dalam upaya menambah wawasan dan pengetahuan petani dalam berusaha tani modern dan berwawasan lingkungan yang baik. Pada hari selas 8 Mei 2018 dengan rombongan berjumlah sekitar 20 orang, yang terdiri dari Penyuluh Pertanian Lapang (PPL),dan anggota kelompok tani Sinar Ternak desa Labuan Toposo Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala berkunjung ke Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah.


Secara khusus, kunjungan tersebut bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai pengembangan bidang pertanian dan Usaha Peternakan dan hasil ikutannya yang telah dilaksanakan oleh BPTP Sulawesi Tengah. Pada kesempatan tatap muka di Agrimart sharing informasi dua arah terjadi dalam diskusi yang dinamis mulai dari konsep pertanian berkelanjutan, peran pertanian hingga persoalan yang dihadapi petani pada umumnya. Beberapa masukan dan solusi terkait dengan permasalahan yang diangkat menjadi point penting dalam diskusi tersebut. Setelah pemaparan dilanjutkan melihat pertanian ramah lingkungan, diantaranya pertanaman di Agrimart BPTP yang mengedepankan Kawasan Rumah Pangan Lestari, yang berbasis kawasan sayuran organic dan pemanfaatan lahan pekarangan.


Kunjungan dilanjutkan di kelopok tani Natural di UPT Bulupountu Jaya, dimana kawasan tersebut merupakan binaan BPTP Sulteng serta telah menerapkan pertanian organic dengan memanfaatkan kotoran dan urin ternak. Sharing informasi dua arah tentang budidaya sapi potong lokal secara intensif sangat menarik anggota karena pola pemeliharaan sapi di Lokasi Klp. Tani Sinar Ternak secara umum masih dilaksanakan secara semi intensif dimana siang digembalakan pada waktu malam dikandangkan.
Kunjungan dilanjutkan ke Taman Saint Pertanian (TSP) Sidondo. Dalam kunjungan tersebut petani sangat tertarik dengan pertanaman hijauan pakan ternak unggul dibawah tegakan kelapa, hal ini dikarenakan potensi lahan yang sama tetapi belum dimaksimalkan dengan pertanaman HMT guna mendukung usaha ternak sapi. Dalam kunjungan tersebut juga diperkenalkan pengolahan pupuk organic dari kotoran ternak dengan pengkayaan arang tongkol jagung atau biasa disebut Biocar, penggunakan pupuk biocar sangat dibutuhkan di propinsi Sulawesi tengah yang merupakan daerah katulistiwa dan mempunyai daerah kering dan tipe iklim kering. Potensi tongkol jagung juga mendukung di kawasan kec. Labuan kab. Donggala.

Sektor peternakan di Indonesia sampai hari ini masih menjadi salah sumber ketahanan pangan yang sangat strategis. Namun kondisi di lapangan belum terkelolah secara professional tetapi sebagian besar merupakan usaha peternakan rakyat berskala kecil yang berada di perdesaan dan maish menggunakan teknologi secara sederhana atau tradisional. Pola pemeliharaan di Propinsi Sulawesi Tengah masih semi intensif dimana siang digembalakan sementara malam dikandangkan dalam kelompok besar karena dari satu lingkungan berkumpul dalam satu tempat. Pola pengumpulana pada suatu tempat dan setiap malam dilakukan. Pengumpulan di suatu tempat tersebut bisa mencapai Kurang lebih 60 ekor dalam satu tempat, sehingga potensi kotoran ternak yang sangat berlimpah . Hasil sampingan pemeliharaan ternak sapi atau sering juga disebut sebagai kotoran sapi tersusun dari feses, urine dan sisa pakan yang diberikan. Hasil sampingan ini merupakan bahan utama pembuatan kompos yang sangat balk dan cukup berpotensi untuk dijadikan pupuk organik serta memiliki nilai hara yang cukup baik.


Agar dapat memberikan manfaat yang maksimal maka hasil sampingan pemeliharaan ternak sapi tersebut harus diproses sebelum dipergunakan sebagai pupuk.. Dalam Upaya tersebut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, berinisiatif melaksanakan Bimbingan teknis Pemanfaatan limbah peternakan sebagai bokasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari senin 7 Mei 2018 bertempat di Seketariat Kelompok Khatulistiwa Desa Tinggede Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang yang terdiri dari anggota kelompok tani Khatulistiwa dan klp. Tani Serut jaya, dan ibu-ibu rumah tangga sekitar wilayah bimbingan teknis dalam kegiatan tersebut juga dihadiri oleh penyuluh dari Kecamatan marawola.


Praktek pembuatan bokasi bhokhasi kotoran ternak dipandu oleh Penyuluh BPTP Balitbangtan Sulawesi tengah sebagai narasumber. Dalam pelaksanaan praktek terlihat antusiasme dari para peserta anggota kelompok tani terutama ibu ibu rumah tangga. Pembuatan pupuk bhokhasi ini mendukung kawasan rumah pangan lestari (KRPL)