JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Pin It

Pengembangan Sistem Tanam Jarwo Super yang di laksanakan oleh BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah di Kab. Poso selama tahun 2017 mencapai puncaknya pada hari ini (Senin, 29/01/2018), yang ditandai dengan Kegiatan Panen Raya di Desa Sa’atu, Kecamatan Poso Pesisir. Kegiatan panen raya turut dihadiri unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Poso dan Provinsi Sulawesi Tengah yakni Wakil Bupati Poso, Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Povinsi Sulteng, Kadis Tanaman Pangan Kabupaten Poso, Dandim Poso, Kepala BPSB Provinsi Sulteng, Kapolsek dan Camat Poso Pesisir, Kabid Penyuluhan, para petugas penyuluh Kabupaten Poso, seluruh Babinsa Sekecamatan Poso Pesisir dan Kota, para petani serta sejumlah wartawan lokal.

Usai melakukan panen bersama unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Poso dan Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah, Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak, S.Pt., MP., menghimbau Petani sawah di Kabupaten Poso dan Sulawesi Tengah umumnya untuk meninggalkan pola tanam yang disebut sebagai HAKIKA (Hambur Kiri Kanan) dan beralih ke model penanaman padi yang lebih baik seperti Pola Tanam Jajar Legowo. “Sistem itu memang kelihatannya bagus, tapi biaya produksinya tinggi, sistem itu harus mandi pestisida, bahkan petani-petani karena jarak tanamnya tidak ada itu menggunakan pestisida 3 merk sekali semprot” ujar Andi Baso dihadapan para kelompok tani serta unsur pemerintah daerah yang hadir.

Menurut Andi Baso, dikhawatirkan model penanaman HAKIKA yang tidak diketahui dari mana asal usulnya itu justru merugikan petani karena beras yang dihasilkan tidak layak konsumsi. “Kalau beras itu berwarna ungu artinya apa? Residu Pestisida lebih tinggi dibatas toleransi yang aman bagi manusia, yang kedua kalau ada serangan hama, maka pemberantasannya sulit, terutama yang paling sering adalah penggerek batang. Pola Pertanian HAKIKA juga membuat kondisi lahan pertanian terkuras kesuburannya yang membuat tingginya tingkat kebutuhan penggunaan pupuk untuk musim tanam berikutnya” jelas Andi Baso dalam sambutannya.

Penerapan Inovasi Teknologi Jajar Legowo Super Terintegrasi Perbenihan merupakan teknologi penanaman padi yang di tawarkan kepada kelompok Tani di Poso Pesisir. Sistem tanam jajar legowo adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong. Dari hasil implementasi teknologi di areal persawahan seluas 20 hektar di Desa Sa’atu memungkinkan peningkatan hasil panen yang mencapai 9 ton gabah kering panen (GKP) per hektar, dibandingkan pencapaian rata-rata petani yang hanya maksimal 2,5 hingga 3 ton.

“Saya ini dulu pakai pola tanam seperti yang dikatakan tadi HAKIKA itu, namun akhirnya ditawarkan teknologi ini oleh BPTP. Sempat ragu juga, namun tahun ini hasil panen per hektar itu bisa sampai 9 ton, dulu hanya mimpi kalau bisa dapat hasil panen seperti ini” jelas Viktor Tambing, Petani Desa Sa’atu. “Kami berharap ke depan ini BPTP Sulawesi Tengah tetap mengawal petani-petani disini, dan kalau bisa bukan hanya petani di Desa Sa’atu, tapi di desa-desa lainnya yang juga ingin menerapkan pola tanam Jajar Legowo” harap Viktor Tambing.

Pencapaian hasil panel 9 ton per hektar berdasarkan penerapan Teknologi Pertanian dari BPTP ini juga mengejutkan Pemerintah Kabupaten Poso. Wakil Bupati Poso, Samsuri mengatakan bila teknologi ini bisa diaplikasikan di seluruh areal persawahan di Poso akan membuat daerah itu surplus beras. “Ini sangat mendongkrak produksi pertanian di daerah kita yang selama ini hasilnya memang sangat terbatas, rata-rata itu hanya 2,5 ton dulunya.Kalau ini terus dijadikan kebiasaan, maka hasil produksi gabah di daerah kita ini tidak akan pernah kekurangan bahkan akan jadi surplus di masa-masa yang akan datang” harap Samsuri. Peningkatan hasil Produksi pertanian dengan pemanfaatan teknologi seperti Jajar Legowo oleh BPTP Sulawesi Tengah diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Poso.

Kegiatan Pengembangan Sistem Tanam Jarwo Super merupakan kegiatan kerjasama SMARTD Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui BPTP Sulawesi Tengah pada tahun 2017. Khusus di Kabupaten Poso, kegiatan yang dilaksanakan tersebut di implementasikan pada lahan sawah seluas 20 ha milik para petani yang tergabung dalam kelompok tani Ue Mangga’a Desa Sa’atu Kecamatan Poso Pesisir. Empat varietas padi yang ditanam pada luasan tersebut yakni varietas Mekongga (11 ha), Inpari 30 (7 ha), Inpari 34 (1 ha) dan Inpari 36 (1 ha).