JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Pin It

Populasi dan komposisi ternak di Provinsi Sulawesi tengah, yang menghasilkan perbedaan jumlah emisi GRK yang dihasilkan dari setiap jenis ternak. Untuk dapat mengetahui sumbangan emisi GRK dari setiap ternak, maka dilakukan penghitungan dengan menggunakan ALU Tools dengan standar IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) 2006. ALU Tools adalah metode yang memasukan data populasi ternak dan beberapa factor, sehingga dapat digunakan oleh semua negara. Pada metode ini data yang diperlukan adalah populasi ternak dalam satu tahun di satu Provinsi dan nilai faktor emisi (FE) setiap jenis GRK. Dalam buku panduan IPCC tersebut, telah ditetapkan nilai FE untuk setiap gas dari GRK (CH4 dan N2O) dari setiap jenis ternak

Untuk itu BPTP Sulteng mengikuti Workshop Pelatihan Peningkatan Kompetensi dan Pengetahuan Peneliti tentang Emisi Gas Rumah Kaca yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) tentang perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari Peternakan Menggunakan Software ALU Tool pada tanggal 16-20 Juli 2018 di The Sahira Hotel Bogor. Kepala Puslitbangnak Dr. Atien Priyanti M.Sc menyampaikan workshop dan pelatihan ini merupakan kegiatan Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian mengenai Proyek Sustainable Management of Agricultural Research and Technology Dissemination (SmartD) yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan peneliti lingkup Badan Litbang Pertanian dalam mengukur dan menghitung emisi gas rumah kaca (GRK) sektor peternakan dengan menggunakan Software ALU Tool.

Workshop dibuka oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Ir. Muhammad Syakir M.S dalam sambutan pembukaannya menyatakan ”Saya memandang topik dalam workshop ini sangatlah strategis. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung program pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebanyak 26% pada tahun 2020. Diharapkan pada tahun 2030 akan menurunkan emisi dari semua sektor sebesar 29% dengan usaha sendiri atau sampai 41% dengan bantuan pendanaan dari luar negeri.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian teori tentang perubahan iklim, emisi GRK dari peternakan oleh Dr. Joel Gibbs yang berasal dari New Zealand dan disusul dengan pemaparan Bagaimana mengukur serta menghitung emisi GRK peternakan yang disampaikan oleh Dr. Stefan Muetzel yang juga berasal dari New Zealand. Pelatihan dilanjutkan dengan Penjelasan Panduan IPCC 2006 (dengan fokus ternak di sektor AFOLU) OLEH Dr. Leandro Buendia dari Filipina.
Sampai tahun 2016 penghitungan dari subsektor peternakan masih menggunakan metode Tier-1, Namun pengembangan hasil penelitian oleh Pusllitbangnak, yang menghasilkan beberapa nilai faktor emisi lokal Indonesia untuk semua jenis ternak, mengharuskan penghitungan dilakukan dengan metode yang lebih baik (Tier-2).

Pelatihan diikuti oleh sebanyak 36 peserta, yang terdiri dari 26 peneliti BPTP, 2 peneliti Balitnak, 3 peneliti Puslitbangnak, 2 peneliti Lolit Sapi Potong, 2 peneliti Lolit Kambing Potong dan 1 peneliti Balingtan.. Jaya Peternakan Indonesia.