JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Pin It

Upaya terus meningkatkan kemampuan penyuluh dalam mendampingi petani menerapkan inovasi teknologi pada Program Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan di Sulawesi Tengah, BPTP Sulawesi Tengah melaksanakan pembelajaran di pertemuan dua mingguan penyuluh BPP Petobo Kecamatan Palu Selatan pada tanggal 30 Agustus 2018. Penyuluh sebagai pendamping petani di wilayah kerjanya perlu terus memperoleh tambahan kemampuan soft skill competency maupun hardskill competency, untuk ilmu dan teknologi yang berkembang setiap saat. Narasumber Dr Herawati SP, MSi menyampaikan materi Identifikasi Potensi Wilayah (IPW) dengan metode Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP). Dijelaskan bahwa IPW merupakan alat bantu penyuluh dan petani untuk mengetahui kendala, masalah dan peluang usahataninya. Tujuan dilakukannya IPW itu sendiri secara umum adalah untuk mengetahui dan memahami karakteristik lingkungan biofisik/potensi Sumber Daya Alam (SDA) serta potensi sosial dan budaya. Pertemuan yang dihadiri penanggung jawab kegiatan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan BPTP Sulteng (Mardiana SP, MSi) tersebut diakhiri dengan praktek tentang cara mengisi matriks IPW dan KKP yang dipandu oleh narasumber beserta tim penyuluh BPTP (Asnidar SP).


Penyuluh harus mampu menggali potensi melalui identifikasi potensi wilayah dan agroekosistem agar dapat memberikan manfaat dalam arti data-data yang diperoleh dapat menjadi dasar atau pertimbangan untuk meningkatkan produktifitas, pendapatan, nilai tambah atau secara umum dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergerak dan terkait dengan sektor pertanian. Bila dilihat dari segi potensi wilayah kerja penyuluh pertanian berbeda-beda dalam suatu kurun waktu tertentu, sehingga perlu dilakukan pengumpulan data dan informasi berkaitan dengan potensi sumberdaya yang tersedia di wilayah tersebut pada kurun waktu tertentu. Potensi wilayah tidak saja terkait dengan sumberdaya alam yang tersedia, tetapi juga mencakup sumberdaya lainnya seperti sumberdaya manusia (SDM), sumberdaya finansial, dan yang lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan wilayah.


IPW ini, seringkali dikaitkan dengan data potensi wilayah atau monografi wilayah. Padahal IPW yang dibutuhkan dalam penyuluhan, tidak cukup hanya dengan mengambil data monografi desa/kecamatan/kabupaten/kota saja. Data monografi desa merupakan modal dasar yang masih perlu terus digali, dan dianalisa sehingga data potensi wilayah terfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan bersama masyarakat di desa atau wilayah tersebut. Data monografi desa masih bersifat umum dan sangat luas, sehingga perlu ditelusuri dan digali lebih dalam lagi data dan informasi yang lebih spesifik berkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai permasalahan dan kebutuhan masyarakat yang didampingi oleh penyuluh. Identifikasi data primer bisa dilakukan melalui pendekatan partisipatif dan wawancara semi tersetruktur menggunakan teknik PRA, sedangkan identifikasi data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh data potensi wilayah dan agroekosistem dari data monografi desa/kecamatan/BPP dan sumber lain yang mendukung. Salah satu output dari identifikasi potensi wilayah ini adalah menentukan kebutuhan teknologi spesifik lokasi di suatu daerah. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah melalui Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP) yang merupakan bagian kecil dari kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA).

 Manfaat KKP Bagi Penyuluh:
1. Dipahaminya sistem produksi dan pemanfaatan sumberdaya alam di tingkat wilayah
2. Diketahuinya masalah/kendala dan cara mengatasinya dalam upaya meningkatkan produktivitas padi di wilayahnya
3. Teridentifikasinya langkah-langkah merakit teknologi usahatani dan menyusun materi penyuluhan
4. Terkumpulnya data untuk perencanaan pelaksanaan penyuluhan melalui penyusunan matriks programa

Manfaat KKP bagi petani:
1. Dipahaminya arti sumberdaya alam dan manfaatnya untuk system produksi (PaJaLe, SIWAB).
2. Dipahaminya cara menganalisis permasalahan dan pemecahannya dalam usahatani (PaJaLe, SIWAB) serta memanfaatkan peluang peningkatan produksi di suatu wilayah.
3. Teridentifikasinya teknologi-teknologi yang sesuai untuk usahataninya.

Prinsip Dasar KKP:
1. Melibatkan dan mengaktifkan kelompok tani sejak awal penerapan PTT
2. Menggali informasi sesuai dengan kemampuan petani (yang praktis)
3. Bersifat informal
4. Menerapkan demokrasi, yaitu mendengar suara petani keseluruhan, hingga terungkap kebutuhan petani bersama seutuhnya.
5. Dalam pelaksanaan KKP dipimpin oleh ketua kelompok tani atau yang ditunjuk sebagai moderator
6. Menggali masalah dan akar permasalahan serta cara pemecahannya.
7. Waktu KKP sebaiknya sesuai dengan waktu yang dikehendaki petani

Strategi Perakitan Teknologi:
Susun Tahapan Pelaksanaan
1. Identifikasi potensi sumberdaya dan kondisi eksisting dan masalah dengan diskusi, bila perlu lakukan pengamatan lapang
2. Kumpulkan Permasalahan yang dialami setiap petani dan dikelompokkan,
3. Penentuan prioritas masalah secara bersama oleh anggota kelompok tani.
4. Tiap masalah prioritas dicarikan alternatif pemecahannya oleh semua peserta
5. Analisis kebutuhan dan peluang introduksi teknologi atas dasar permasalahan tersebut
6. Narasumber membantu kelompok tani dalam memandu diskusi dan solusi pemecahan masalah

Pahami Kondisi Eksisting
1. Menggali informasi secara partisipatif tentang karekteristik lingkungan biofisik/potensi sumberdaya, sosial, ekonomi dan budaya:


 Awal musim hujan
 Awal musim kemarau
 Ketersediaan air pada musim kemarau
 Pola tanam setahun
 Tingkat kesuburan lahan
 Ketersediaan tenaga kerja dan Alsintan
 Awal tanam masih menggunakan hitungan
 dst


2. Menggali informasi secara partisipatif tentang kondisi/teknologi usaha tani yang biasa diterapkan petani secara lengkap :


 Varietas yang digunakan
 Penggunaan benih dan perlakuan benih
 Cara tanam dan jarak tanam
 Penggunaan pupuk
 Hama dan penyakit utama
 Pengendalian hama dan penyakit
 Cara panen
 Hasil panen