Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
pustaka
upbs
banner2
kalender
RCP

Forum Litbang/Katalog Online

Akibat Banjir, Ribuan Hektar Lahan Pertanian di Sulawesi Tengah Rusak PDF Print E-mail
Written by Saidah & Femmi, NF   
Friday, 18 June 2010 09:58
Guyuran hujan terus menerus, menyebabkan beberapa kabupaten di Sulawesi Tengah dilanda banjir. Kabupaten yang dilanda banjir adalah Poso, Buol dan Morowali. Tidak hanya merendam rumah penduduk, tetapi lahan pertanian juga rusak terkena dampaknya. Demikian info yang diperoleh BPTP Sulawesi Tengah dari beberapa sumber.

Salah satu dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian adalah ancaman banjir. Beberapa kabupaten di Sulawesi Tengah telah terjadi bencana banjir akibat curah hujan di atas normal yang mengakibatkan sungai-sungai yang berada di lokasi banjir meluap. Di kabupaten Poso, Desa Olumokunde Kecamatan Pamona Timur, Kaduwaa Kecamatan Lore Utara, Mayasari Kecamatan Pamona Selatan, Kilo, Bakti Agung, dan Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara, Salukala Kecamatan Pamona Barat. Empat desa terakhir merupakan lokasi pendampingan laboratorium lapang (LL) SL PTT. Selain banjir, bencana longsor juga terjadi di kabupaten ini, yakni di Kecamatan Poso Pesisir Selatan dimana petaninya banyak mengusahakan padi ladang.

Di Kabupaten Buol Kecamatan Baolan khususnya di lokasi SL-PTT jagung, dari rencana semula 3 (tiga) desa dengan luasan sebesar 300 ha akan melakukan penanaman pada bulan Mei-Juni, namun karena fenomena iklim yang tidak menentu, maka jadwal penanaman tersebut hanya satu desa yang telah melakukan penanaman, sementara dua desa lainnya menunggu keadaan iklim yang mendukung, hal ini terjadi karena lahan jagung seluas 312 ha telah tergenang air akibat curah hujan yang terus-menerus dengan hujan rata-rata di atas normal.

Pada bulan April 2010 yang lalu, satu rumah di Desa Onepute hanyut akibat banjir dan meluapnya Sungai La’a di wilayah Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Selain desa tersebut, 10 desa lainnya juga mengalami hal yang sama. Sedikitnya 2.000 jiwa dari 10 desa yang terendam banjir sekarang mengungsi di posko-posko pengungsi yang disediakan. Ruas jalan Tompira-Kolonodale sempat tidak bisa dilalui kendaraan karena tergenang setinggi satu meter. Sekitar 2.000 ha perkebunan kakao milik penduduk di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah, mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang merendam wilayah tersebut lebih sepekan sejak 25 Maret 2010 lalu. Banjir yang merendam 10 desa di Kecamatan Petasia itu juga menghancurkan sekitar 532 ha sawah dan 252 ha kebun palawija. Daerah terparah diterjang banjir adalah Desa Tiu dengan luasan kebun kakao yang rusak 1.260 ha, menyusul Desa Moleono dengan luas 237 ha, dan Desa Togo Mulya, serta Sampalowo masing-masing 100 ha. Banjir yang merendam perkebunan kakao di Morowali akan mempengaruhi realisasi produksi dan ekspor kakao Sulawesi Tengah 2010. Sejak bencana banjir tersebut, pedagang pengumpul kakao yang beroperasi di wilayah Morowali lebih memilih mengirim ke Makassar daripada ke importir di Palu. “Kondisi ini jelas menurunkan realisasi ekspor Sulteng,”. Dengan luas lahan 16.245 ha, Morowali termasuk daerah penghasil kakao di Sulawesi Tengah setelah Kabupaten Parigi Moutong (61.780 ha), Donggala (48.008) ha, Poso (40.357 ha) dan Banggai (17.314 ha). Pada 2009, Sulawesi Tengah membukukan ekspor kakao sebanyak 105 ribu ton, menurun dibanding realisasi 2008 yang mencapai 116 ribu ton. Penurunan ini disebabkan antara lain adanya peremajaan kakao melalui program Gernas kakao.
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com