JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Pin It

Salah satu program utama Kementan adalah Komando Startegis Pembangunan Pertanian (Kostratani) dimana BPP sebagai center of knowledge yang menjadi sarana transfer ilmu dari peneliti, penyuluh maupun stakeholder lainnya. Peningkatan peran BPP sebagai pusat pembelajaran mendorong BPP Model Kostratani Gumbasa didampingi oleh BPTP Sulawesi Tengah melakukan safari penyuluhan. Memasuki masa panen padi di wilayah kerja BPP Gumbasa dilakukan pendampingan pengambilan ubinan pada Kamis, 7 Oktober 2021 di Kelompoktani Gelara, Desa Sibalaya  Barat, Kabupaten Sigi. Hadir pada kegiatan tersebut Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sulawesi Tengah, BPS Kabupaten Sigi, Peneliti dan Penyuluh BPTP Sulawesi Tengah, Penyuluh WK Gumbasa, dan Kelompoktani Gelara.

Saat pelaksanaan kegiatan, Kasie Kelembagaan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah (Nasrudin, SP.,MP), menyampaikan kepada para penyuluh yang hadir, agar para penyuluh harus aktif dalam mengawal dan mendampingi petani di lapangan, untuk meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas utama Kementan, dan berharap pengambilan ubinan ini menjadi evaluasi dan menjadi dasar untuk perbaikan usahatani ke depan.

Pada kesempatan yang sama, peneliti BPTP Sulawesi Tengah (I Ketut Suwitra, S.ST.,M.Si), yang menjadi narasumber teknologi menjelaskan bahwa pengubinan merupakan istilah yang biasa digunakan oleh petugas pertanian maupun statistik untuk menghitung secara cepat dan sederhana hasil panen produk pertanian termasuk padi sawah. Semakin hari metode pengambilan ubinan semakin disempurnakan dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi, saat ini metode yang digunakan dalam pengubinan adalah Kerangka Sampel Area (KSA). KSA merupakan metode yang baru dikembangkan oleh BPS bekerjasama dengan berbagai lembaga dalam rangka memperbaiki metode pengumpulan data luas panen yang sebelumnya hanya berdasarkan pada hasil pengamatan mata (eye estimate). Keunggulan metode KSA ini antara lain dilakukan dengan cara yang lebih obyektif dan modern dengan melibatkan perangkat teknologi di dalamnya, sehingga data dikumpulkan menjadi lebih akurat. Menurut I Ketut Suwitra, data-data penting yang harus diambil adalah umur panen, tinggi tanaman, koordinat, foto dengan open camera  pada empat sisi lahan dan dari permukaan atas lahan. “Penting untuk diperhatikan bahwa sebelum melakukan ubinan pastikan dahulu bahwa aplikasi angka random ubinan telah diunduh ke dalam perangkat android, sebagai alat untuk menentukan titik pengubinan,” demikian Ketut Suwitra menambahkan.

Sebagai perwakilan BPS, I Ketut Dibia yang juga hadir menyaksikan pengambilan ubinan tersebut menyampaikan bahwa survei ubinan merupakan salah satu kegiatan rutin BPS yang dilakukan guna mengumpulkan data produktivitas tanaman pangan, utamanya komoditas padi. Survei ini dilakukan bersamaan dengan waktu panen oleh petani. Data produktivitas komoditas pangan perlu dilaporkan dan sangat penting sebab berkaitan langsung dengan data ketahanan pangan. Dalam perhitungan produksi padi salah satu informasi yang penting adalah hasil per hektar (produktivitas) yang dikumpulkan secara rutin setiap subround melalui Survei Ubinan. Kini Survei Ubinan menggunakan pendekatan area, di mana berbasis Kerangka Sampel Area (KSA) mengunakan titik pengamatan pada subsegmen sesuai fase pertumbuhan padi. Dengan melibatkan peranan teknologi, terkini, sehingga data produksi padi yang dikumpulkan menjadi lebih akurat, cepat dan tepat waktu. Lebih lanjut beliau menjelaskan desain sampling Survei Ubinan komoditas padi menggunakan pendekatan area berdasarkan hasil pendataan statistik pertanian tanaman pangan terintegrasi dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA). Seiring dengan perkembangan teknologi, pada tahun 2020 dilakukan peralihan moda pengumpulan data Survei Ubinan dari moda Paper and Pencil Interviewing (PAPI) ke Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI). PAPI merupakan bentuk wawancara yang selama ini dilakukan BPS dalam mengumpulkan data dari responden, yaitu menggunakan kuesioner cetak kertas dan alat tulis. Sedangkan pada CAPI, wawancara dilakukan dengan bantuan smartphone android. Manfaat utama yang diperoleh dari metode CAPI adalah peningkatan kualitas data, aktualitas, dan penghematan biaya.

Dari pengambilan ubinan dengan menggunakan metode KSA diperoleh hasil sebesar 4,8 ton/ha, varietas Cisantana. Dari hasil ini masih perlu perbaikan dalam sistem budidaya di tingkat petani terutama pengaturan jarak tanam dan waktu tanam. Kepala BPP Gumbasa (Seprianto, SP), berharap BPTP Sulawesi Tengah dapat terus mendampingi petani dalam memperbaiki sistem budidaya petani dan berkenan menjadi narasumber terkait pengubinan dengan metode KSA agar semua penyuluh mengetahui secara mendalam dan mampu menerapkan di lapangan, terutama saat ini wilayah kerja BPP Gumbasa memasuki masa panen, sehingga diharapkan penyuluh dapat melakukan ubinan di wilayah kerjanya masing-masing. Jayalah Pertanian Indonesia.