JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

PALU - Tugas dan tanggung jawab sebagai Plt. Kepala BPTP Sulawesi Tengah yang dijalani oleh Dr. Ir. Nurdiah Husnah, M.Si selama hampir enam bulan kini telah selesai. Kini beliau akan kembali ke BPTP Sulawesi Barat untuk menjalankan tugas utamanya sebagai Kepala BPTP Sulawesi Barat.

Pada Selasa (14/9/21) didampingi oleh Kasubag TU dan di depan seluruh staf BPTP Sulawesi Tengah beliau mohon izin untuk kembali ke Sulbar. Saat menyampaikan kesan dan pesannya yang berlangsung di ruang auditorium BPTP Sulawesi Tengah, Dr. Nurdiah antara lain mengungkapkan bahwa dirinya merasa terkesan dan banyak memperoleh pengalaman baru selama memegang amanah di Sulawesi Tengah.

Meskipun hanya dalam kurun waktu yang singkat, berbagai kegiatan dari hasil kunjungan kerjanya selama ini menunjukkan bahwa para karyawan dan karyawati BPTP Sulawesi Tengah merupakan personil yang tangguh serta mampu menjalankan tugas dan kewajiban dalam medan yang terbilang banyak menantang dengan didasari oleh kesadaran akan tugas dan tanggung jawab yang diemban.

Beliau sempat mencontohkan salah satu pengalaman yang dialaminya menjalani situasi menuju lahan untuk melakukan gerakan tanam jagung baru-baru ini di Kabupaten Poso, yang merupakan satu dari sekian banyak wilayah yang menjadi tanggung jawab BPTP Sulawesi Tengah dengan kondisi wilayah beragam.

Pertemuan yang juga dihadiri oleh Kepala SMK Bambalamotu Sulawesi Barat dan para siswa prakerin, Dr. Nurdiah berpesan pula kepada seluruh staf agar terus memperkuat kesolidan yang telah terbangun selama ini, dengan menjaga mind set kita untuk selalu memikirkan bahwa kita adalah satu, kita adalah BPTP Sulawesi Tengah, karena dengan ini kita bisa maju dan membangun pertanian Sulawesi Tengah.

Tak lupa beliau juga mohon maaf jika banyak terdapat kekurangan selama berinteraksi dalam pelaksanaan tugas tersebut.

Terima kasih dan Sukses Selalu Ibu Dr. Nurdiah :)

 

SAMBO - Kelompok tani membutuhkan pembinaan dan pemberdayaan lebih lanjut agar dapat berkembang secara optimal. Pemberdayaan dan penguatan kelembagaan petani merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan membangun sistem dan usaha agribisnis di satu wilayah. Sistem dan usaha agribisnis dapat tumbuh dan berkembang dengan baik apabila kelembagaan petaninya kuat. Dalam rangka kegiatan Hilirisasi Inovasi Teknologi Mendukung Food Estate di Desa Sambo Kec. Dolo Selatan, Tim BPTP Sulawesi Tengah melakukan kegiatan penguatan kelembagaan kelompok tani Kooperator, guna mendukung inovasi teknologi dan kemandirian kelompok tani (08/09/21).

Pada Pertemuan ini sebagai Narasumber Ibu Dr. Herawati Sp,M.Si salah seorang penyuluh BPTP Sulteng dan Ibu Tina Febrianti, SP, M.Sc sebagai salah satu peneliti bidang Sosiologi Pedesaan memberikan pemahaman tentang konsep berkelompok tani dan pengembangan kelompok tani menjadi kelompok tani mandiri.

Penguatan kelembagaan kelompok tani perlu dilakukan beberapa upaya, antara lain; (1) mendorong dan membimbing petani agar mampu bekerjasama di bidang ekonomi secara berkelompok, (2) menumbuh-kembangkan kelompok tani melalui peningkatan fasilitasi bantuan dan akses permodalan, posisi tawar, peningkatan fasilitasi dan pembinaan kepada organisasi kelompok, dan peningkatan efisiensi dan efektivitas usahatani, serta (3) meningkatkan kapasitas SDM petani melalui berbagai kegiatan pendampingan dan latihan yang dirancang secara khusus bagi pengurus dan anggota. Pemberdayaan kelembagaan kelompok tani merupakan serangkaian upaya yang sistematis, konsisten dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya adaptasi dan inovasi petani guna memanfaatkan teknologi secara optimal dalam bingkai aturan main yang ada untuk mencapai tujuan bersama secara lebih efisien. Jayalah Pertanian Indonesia

PALU - Melestarikan lingkungan merupakan salah satu kegiatan untuk merawat sumber daya alam yang ada. Salah satu cara untuk mewujudkannya yaitu memanfaatkan sampah rumah tangga. Selain untuk melestarikan lingkungan pemanfaatan sampah rumah tangga juga merupakan bentuk dukungan terhadap program kerja pemerintah yaitu menerapkan pangan organik.

Untuk mendukung pelaksanaan dilapangan tim BPTP Sulawesi Tengah melalui kegitan Hilirisasi Pemanfaatan Pekarangan mengadakan pendampingan pemanfaatan sampah organik menjadi kompos. Pada hari Senin, 13 September 2021, BPTP Sulawesi Tengah melakukan pendampingan pembuatan kompos dengan memanfaatkan sampah rumah tangga. Kegiatan dilaksanakan Kelompok Wanita Tani Sedap Malam kota Palu dan dihadiri oleh anggota kelompok KWT Sedap Malam, Penyuluh BPP Duyu, dan Peneliti, Penyuluh, dan Litkayasa BPTP Sulawesi Tengah.

Dimana diketahui sampah rumah tangga terdiri dari dua jenis yatu sampah organik dan sampah non organik. Sampah organik adalah sampah rumah tangga yang berupa sisa makanan seperti sayuran atau buah-buahan. Selain itu, bisa juga berupa bumbu dapur yang sudah tidak terpakai ataupun dedaunan yang rontok. Sementara itu, sampah non-organik adalah sampah yang tidak bisa diolah menjadi pupuk kompos, seperti plastik, besih, kertas, dll.

Kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik yang sudah mengalami proses pelapukan karena terjadi interaksi antara mikroorganisme atau bakteri pembusuk yang bekerja di dalam bahan organik tersebut. Bahan organik yang dimaksud pada pengertian kompos adalah sisa sayuran, rumput, jerami, sisa ranting dan dahan, kotoran hewan, bunga yang rontok, air kencing hewan ternak, serta bahan organik lainnya. Semua bahan organik tersebut akan mengalami pelapukan yang diakibatkan oleh mikroorganisme yang tumbuh subur pada lingkungan lembap dan basah.

Kompos juga berguna untuk meningkatkan daya ikat tanah terhadap air sehingga dapat menyimpan air tanah lebih lama. Ketersediaan air di dalam tanah dapat mencegah lapisan kering pada tanah. Penggunaan kompos bermanfaat untuk menjaga kesehatan akar serta membuat akar tanaman mudah tumbuh. Kandungan hara pada kompos memang terbilang lebih sedikit dibandingkan pupuk anorganik. Oleh karena itu, penggunaannya harus dilakukan dengan volume yang banyak untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman. Selain itu pembuatan kompos relatif murah dan kompos juga memberikan keuntungan jangka panjang untuk kesuburan tanah. Oleh karena itu, tidak salahkan kalau kita beralih ke pupuk organik Selain tubuh kita sehat karna tidak mengkonsumsi residu yang berlebih, kita juga ikut serta menjaga kesuburan tanah dan alam.

Petani Cerdas, Pertanian Organik.

Jayalah Pertanian Indonesia

PALU - (09/09/21) Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Syahrul Yasin Limpo melakukan pengukuhan Komisariat Daerah Jaringan Pertanian Nasional (JPN) di Kebun Percobaan Balai Tanaman Hias, Cipanas. Sebanyak 60 wilayah Komisariat Daerah Jaringan Pertanian Nasional (JPN) yang dikukuhkan. Kota Palu menjadi salah satu wilayah yang terpilih menjadi Daerah Jaringan Pertanian Nasional (JPN). Dengan didampingi oleh BPTP Sulawesi Tengah, Dinas Pertanian Kota Palu, dan BPP Duyu, beberapa kelompok tani di kelurahan Pengawu dikukuhkan sebagai perwakilan Komisariat Daerah Jaringan Pertanian Nasional (JPN) untuk wilayah Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Jaringan Pertanian Nasional (JPN) ini berisi para petani milenial dan petani andalan di seluruh Indonesia. JPN ini merupakan tombak kekuatan pertanian yang semakin maju.

Diselah sambutannya bapak Menteri Pertanian (Mentan) menyatakan, JPN diisi oleh petani milenial yang memiliki optimisme tinggi dan relatif terdidik, termasuk melek secara teknologi digital. “Jaringan ini merupakan kombinasi antara petani milenial yang didampingi langsung oleh penyuluh.

Beliau juga mengungkapkan bahwa setiap daerah memiliki persoalan berbeda-beda karena berbagai faktor, seperti cuaca dan kondisi tanah. Selain itu, tiap daerah juga memiliki komoditi berbeda. Dengan begitu, dalam pencarian solusinya pun tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Oleh karena itu Mentan meminta Komisariat Daerah (Komda) JPN yang ada di tingkat kota/kabupaten dapat memberikan pengalaman dan ikut serta membantu mengatasi permasalahan masyarakat di tingkat wilayah. Sebagai wujud dukungan dalam membangun komunikasi untuk memajukan pertanian yang maju, mandiri, dan modern, serta melek dengan teknologi. . Jayalah Pertanian Indonesia