JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

 

Penyebaran teknologi dan inovasi Balitbangtan sudah diterapkan oleh para petani di Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu. Ada beberapa teknologi alsintan penanaman padi sawah yang diperkenalkan oleh BPTP Sulawesi Tengah seperti Atabela, Rice Transplanter Jarwo, dan Seed Planter. Tepat dihari ulang tahun Balitbangtan yang ke 47th, pada hari Kamis, 26 Agustus 2021 BPTP Sulawesi Tengah kembali menunjukkan kiprahnya melakukan pendampingan Gerakan Tanam Padi Sawah MT II pada penerapan Indeks pertanaman (IP) 400 menggunakan Seed Planter. Gerakan tanam ini dihadiri anggota kelompok tani Jamba, kepala BPP Duyu, penyuluh BPP Duyu dan peneliti dan penyuluh BPTP Sulawesi Tengah. Penggunaan alat seed planter ini merupakan hal yang baru bagi para pertani di Kec. Pengawu, Kota Palu.

Seed Planter adalah alat tanam benih yang dapat digunakan untuk menanam beberapa jenis biji-bijian dengan bergam ukuran dari kecil hingga besar. Alat ini dapat digunakan untuk menanam berbagai jenis benih atau biji-bijan seperti padi, kacang-kacangan, jagung, kapas dan lain-lain. Seed Planter berfungsi sebagai alat tanam yang benih yang jatuh dengan jumlah tertentu dan jarak tertentu, sehingga proses penanaman dapat berjalan sesuai dengan aturan/rekomendasi yang ditetapkan dalam penanaman benih. Seed planter juga mempunyai berbagai jenis desain dan telah dikembangkan melalui beberapa pendekatan yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun secara umum penggunaan alsintan ini bertujuan untuk mengefisienkan tenaga dan waktu yang pada akhirnya mengefisienkan biaya. Penggunaan alsintan mampu menekan biaya usahatani dan memberikan keuntungan bagi petani, sehingga mampu berkontribusi pada pencapaian swasembada pangan.

Pada pertemuan tersebut petani juga diajarkan cara merakit alat seed plater serta cara penggunaannya. Dalam penyampaiannya Syafruddin (Peneliti BPTP Sulawesi Tengah) menyatakan bahwa dengan adanya alat tanam seed planter ini lebih mengefesienkan tenaga kerja, waktu tanam, dan biaya. Keuggulan lain alat ini populasi tanaman sesuai dengan yang direncanakan . Harapannya dengan adanya pendampingan yang dilakukan oleh BPTP Sulawesi Tengah, produksi dan produktifitas yang dihasilkan dapat meningkat dibandingkat hasil panen priode pertama.

Pertanian Berjaya, Petani Bahagia.

Jayalah Pertanian Indonesia

Fokus Kementerian Pertanian pada tahun 2021 tertuju kepada ketersediaan pangan utama bagi penduduk Indonesia dan diikuti upaya daya saing produksi pertanian agar dapat mengisi pasar ekspor melalui dua kegiatan, yaitu kegiatan utama dan pendukung. Penguatan riset dan inovasi teknologi pertanian melalui hilirisasi inovasi menjadi salah satu kegiatan pendukung dalam strategi pembangunan pertanian. Hilirisasi adalah proses mengolah barang yang semula hanya dijual sebagai bahan mentah (hulu) kemudian diolah melalui proses industrialisasi menjadi barang setengah jadi atau siap pakai (hilir).

Terobosan yang dilakukan Badan Litbang Pertanian adalah memproduksi benih jagung di tingkat petani penangkar, yang selanjutnya benih tersebut akan didiseminasikan kepada petani untuk dikembangkan. Untuk itu pada Jumat, 27 Agustus 2021 dilaksanakan gerakan tanam teknologi produksi benih jagung hibrida produktivitas tinggi Balitbangtan mendukung percepatan hilirisasi inovasi teknologi perbenihan jagung. Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sulawesi Tengah, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sigi, Kepala BPTP Sulawesi Tengah, Camat Dolo Barat, Peneliti dan penyuluh BPTP Sulawesi Tengah, Kepala BPP dan Penyuluh Wilayah Kerja BPP Mantikole, Kepala Desa dan Pengurus Kelompoktani.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Propinsi Sulawesi Tengah (Ir. Retno Erningtyas, MP), dalam sambutannya menyampaikan Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten penopang pangan untuk masyarakat di Kota Palu, sehingga sangat diharapkan untuk mengembangkan tanaman pangan khususnya jagung, karena merupakan wilayah kawasan nasional pengembangan tanaman jagung. Pada tahun 2021 ini Sigi mendapatkan alokasi 2.000 hektar untuk jagung, selain itu ada pula 3.000 hektar akan dijadikan koorporasi jagung. Saaat ini permintaan jagung makin meningkat baik, maka dari itu dihimbau untuk memanfaatkan sejengkal tanah untuk berproduksi.

Kabid Tanaman Pangan Kabupaten Sigi (Ir. Frangky Alydrus, MM), menyampaikan bahwa saat ini Kabupaten Sigi berfokus pada intensifikasi lahan, sehingga sangat diharapkan pendampingan teknologi dan rekomendasi dari BPTP Sulawesi Tengah, agar luas tanam dapat mencapai target serta dapat meningkatkan produksi dan produktivitas.

Selanjutnya Plh. Kepala BPTP Sulawesi Tengah (Rudi Aksono, SP), menyampaikan sebagai UPT Badan Litbang Pertanian yang ada di daerah BPTP Sulawesi Tengah mendukung program dalam upaya swasembada pangan berkelanjutan serta ekspor. Memasuki usia Badan Litbang Pertanian ke 47 sebagai UPT Badan Litbang Pertanian, BPTP Sulawesi Tengah terus berupaya dalam penderasan inovasi teknologi di wilayah ini. Upaya percepatan hilirisasi inovasi teknologi perbenihan jagung hibrida, salah satunya dilaksanakan dalam bentuk kerjasama dengan Balitsereal, BPTP Sulawesi Tengah dan Bumdes dalam memproduksi jagung hibrida. Varietas yang akan diproduksi di sini adalah NASA 29, JH 29, JH 37 dengan total luasan 15 hektar. Selanjutnya hasil produksi nantinya akan disebarkan di wilayah Sulawesi Tengah sesuai ketentuan yang berlaku.

Peneliti BPTP Sulawesi Tengah (Dr. Ir. Syafruddin,MP.), menjelaskan bahwa dalam proses budidaya tanaman salah satu syarat produksi yang tidak dapat tergantikan adalah benih, dan keberhasilan dalam berbudidaya ditentukan dari benih yang ditanam, sehingga perlu benih bermutu. Dalam proses produksi benih hibrida ini yang perlu diperhatikan adalah saat rouging dan detaseling. Melihat kondisi lahan dan cuaca saat ini, juga disarankan untuk membuat drainase, menghindarkan agar jagung tidak tergenang.

Semoga benih yang ditanam ini dapat menghasil benih sebar yang bermutu dan berlabel, yang dapat digunakan oleh para petani untuk meningkatkan produksi dan produktivitas jagung. Jayalah Pertanian Indonesia

KALEKE - (23/08/21) Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) menghadiri panen padi di Desa Kaleke, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang merupakan kegiatan Hilirisasi Teknologi dan Inovasi Balitbangtan Sulteng, mendukung IP 400. Hadir pula ada kesempatan tersebut Camat Dolo Barat, KPLH Kepala BPTP Sulawesi Tengah, Kepala BPP, Peneliti dan penyuluh BPTP, Penyuluh Wilayah Kerja BPP Mantikole, Kepala Desa dan Pengurus Kelompoktani.

Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian ( Dr. Ir. Fery Fahrudin Munier, M.Sc), dalam sambutannya menyampaikan Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya meningkatkan produksi padi untuk menjamin ketersediaan beras nasional secara berdaulat. Salah satu terobosan yang saat ini tengah dilakukan adalah pola tanam padi dengan indeks pertanaman (IP) 400 yang dikelola dalam klaster kawasan berbasis korporasi petani. Beliau percaya program tersebut dapat berjalan dengan menerapkan teknologi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian seperti dan varietas yang berumur genjah.

Selanjutnya Plh. Kepala BPTP Sulawesi Tengah (Dr. Femmi Nor Fahmi, S.Pi.,M.Si), menyampaikan sebagai UPT Badan Litbang Pertanian yang ada didaerah BPTP Sulawesi Tengah mendukung program pemerintah dengan melakukan demplot peningkatan indeks pertanaman melalui kegiatan Hilirisasi Teknologi dan Inovasi Balitbangtan Sulawesi Tengah, untuk mengoptimalkan lahan ada, sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan khususnya padi dan jagung. Berdasarkan hasil ubinan diperoleh hasil 6,6 ton/ ha, yang sbelumnya hanya 4,5 ton/ ha. Beliau juga berharap agar teknologi yang diterapkan dalam demplot dapat disebarkan oleh penyuluh ke wilayah kerjanya masing, sehingga peningkatan indeks pertanaman dapat dilaksanakan di Kecamatan Dolo Barat.

Camat Dolo Barat (Riadin, S.Sos., M.Si), mengucapkan terima kasih atas dukungan BPTP Sulawesi Tengah terutama dam pendampingan teknologi dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan khususnya padi dan jagung. Camat menghimbau agar, para kepala Desa dapat membantu penyuluh dalam menyampaikan teknologi kepada masyarakat tani atau kelompoktani.

Dalam diskusi Petani pelaksana demplot (Alaofin), berharap luas lahan pendampingan perlu ditingkatkan. Seorang penyuluh juga menyampaikan bahwa dulunya bingung dengan target tanam yang cukup tinggi, ternyata hari ini baru jelas solusinya adalah peningkatan indeks pertanaman yang dulunya hanya dua kali menjadi 3 atau bahkan 4 kala. Semoga kedepan program ini dapat sukses khususnya di Dolo Barat, sehingga dapat meningkatkan luas tanam dan produksi serta produktivitas tanaman pangan. Jayalah Pertanian Indonesia