JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kopi gayo merupakan varietas kopi arabika yang menjadi salah satu komoditi unggulan asal Dataran Tinggi Gayo Aceh, Karakter rasa kopi yang kuat, tingkat keasaman yang rendah dengan sedikit rasa rempah (spice) membuatnya sangat digemari terutama di Amerika Serikat dan Eropa.

Kopi gayo juga beberapa kali meraih penghargaan sebagai kopi terbaik dan juga merupakan kopi termahal di dunia pada saat pameran kopi dunia SCAA Portland, AS.

Kopi gayo yang saat ini sedang dibudidayakan di IP2TP Sidondo memasuki umur 14 minggu, Selama tiga hari (3-5/08/21) bersama Peneliti, Penyuluh, Litkayasa BPTP Sulteng, Siswa Prakerin SMK 1 Balaesang dan Polmas Desa Sidondo bersama-sama melakukan kegiatan pindah tanam bibit kopi arabika gayo 1 dan gayo 2 dari lahan persemaian ke polybag.

Menurut Kepala IP2TP Sidondo (I Ketut Suwitra, SST, M.Si) hasil persemaian yang dilakukan survival ratenya mencapai 92%, ini menandakan faktor SOP Perbenihan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam kegiatan persemaian biji kopi.

Selain itu, Tim Pemeriksa dari PVT Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah yang juga meninjau lokasi produksi benih sebar kopi arabika gayo berpendapat bahwa lokasi yang digunakan sebagai media pembibitan juga sangat mendukung, ini dibuktikan dengan pertumbuhan tanaman yang seragam.

"Kegiatan dukungan produksi benih kopi merupakan salah satu bentuk memperkenalkan klon-klon unggul kopi produksi tinggi dan juga merupakan upaya perbaikan produktivitas, mutu dan kualitas tanaman kopi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para petani kopi di Sulawesi Tengah." Ujar Hamka (Peneliti/Penanggung Jawab Kegiatan).

"Pada tahun 2021 ia menargetkan bibit yang bersertifikat dan berlabel dapat disebar berdasarkan CP/CL yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah pada kelompok tani penerima." tambahnya.

Jayalah Pertanian Indonesia

Sebanyak tiga unit rumah kompos (Rukom) dari Program Livelihood Yayasan Pusaka Indonesia (YPI), hari ini Rabu (28/7/2021) telah diresmikan penggunaannya oleh pemerintah Kabupaten Sigi. Rukom yang merupakan bantuan Caritas Swiss bertujuan untuk memberdayakan para petani terdampak gempa bumi dan memperbaiki perekonomian mereka pasca gempa bumi 2018. Hadir pada acara tersebut Asisiten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dinas Peternakan Kabupaten Sigi, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sigi, Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Sigi, BPTP Sulawesi Tengah, Camat Dolo Selatan, Kepala BPP Baluase, tokoh masyarakat dan tokoh adat, kelompoktani pelaksana rumah kompos dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pembangunan rumah kompos berlokasi di Desa Jono, Sambo dan Baluase, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi masing-masing satu unit. Kegiatan ini kerjasama Yayasan Pusaka Indonesia dengan berbagai pihak, antara lain BPTP Sulawesi Tengah yang berperan dalam pendampingan teknologi pengolahan pupuk kompos dan pestisida nabati. BPTP Sulawesi Tengah membantu membimbing petani dalam pemanfaatan dan pengolahan limbah pertanian menjadi kompos dan memproduksi pestisida nabati dari bahan lokal berbasis teknologi.

Program Manager Yayasan Pusaka Indonesia (Kristina Peranginangin) melaporkan bahwa pembangunan rumah kompos terintegrasi selaras dengan visi pemerintah Kabupaten Sigi untuk menjadikan “Kabupaten Sigi Berdaya Saing dan Berbasis Agribisnis”. Sarana tersebut tidak hanya dilengkapi dengan peralatan mesin pengolah bahan kompos, tetapi termasuk juga perlengkapan administrasi. Sementara untuk lahan bangunan merupakan dukungan dari pemerintah desa.

Perwakilan dari CARITAS SWISS (Leyn Gantare) menyampaikan bahwa bantuan tersebut patut disyukuri dengan memanfaatkan peralatan sebaik mungkin, sehingga kedepan rumah kompos dapat dioperasikan sesuai dengan fungsinya dan dapat memulihkan perekonomian kelompoktani pasca bencana dua tahun lalu. Ke depan kelompok pengelola rumah kompos dapat bekerjasama dengan pemerintah desa dalam hal pemasaran dari produk yang dihasilkan baik pupuk kompos maupun pestisida nabati. Dengan fasilitas tersebut diharapkan dapat dikelola dengan baik, sehingga dapat memberikan manfaat yang besar.

Plh. Kepala BPTP Sulawesi Tengah (Rudi Aksono,SP) menyambut baik adanya kegiatan dan pembangunan sarana tersebut, serta mengapresiasi kepada semua pihak, terutama kepada YPI, Pemerintah Kabupaten Sigi serta masyarakat. BPTP Sulawesi Tengah terus mengupayakan pendampingan kepada stakeholders terkait tugas dan fungsinya dalam mendiseminasikan inovasi teknologi, sebagaimana teknologi pembuatan kompos dan pestisida nabati yang telah diaplikasikan oleh masyarakat di Kabupaten Sigi, khususnya di Desa Sambo, Jono dan Baluase. Melalui penerapan teknologi tersebut akan melengkapi aktivitas di rumah kompos dan akan mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. BPTP Sulawesi Tengah selalu terbuka untuk memberikan pelayanan teknologi kepada seluruh stakeholders.

Bupati Sigi dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Andi Ilham, S.Sos, MM.) juga mengapresiasi serta menyambut baik atas terselenggaranya peeresmian rumah kompos tersebut. Dikatakan bahwa peresmian rumah kompos ini sebagai bentuk sosialisasi dan pencanangan gerakan masyarakat pilah sampah dan mengolah sampah sebagai pupuk organik. Pengolahan pupuk organik merupakan upaya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan.oleh karena itu bantuan peralatan rumah kompos yang diterima hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mendukung kegiatan usahatani agar mandiri, maju dan berkembang. Dengan adanya rumah pupuk kompos masalah sampah yang ada saat ini dapat teratasi, dimana sampah bernilai layaknya emas, tidak hanya mensejahterakan, juga menjadikan desa bersih, warga sehat dan sampah menjadi penghasilan.

Semoga dengan adanya rumah kompos ini akan memotivasi petani menuju pertanian organik, sehingga menghasilkan produk yang sehat yang pada akhirnya meningkatkan nilai jual dan pendapatan petani. Jayalah Pertanian Indonesia

Pondok Pesantren Nahdlatul Khairaat merupakan sebuah yayasan pendidikan MI, MTs dan MA dari Nahdlatul Alkhairaat dengan jumlah santri dan santriwati yang saat ini berkisar 60 orang yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah.

Dalam rangka menindak lanjuti kebutuhan dari Pondok Pesantren, BPTP Sulawesi Tengah sebagai perpanjangan tangan dari Badan Litbang Pertanian terpanggil untuk ikut berperan dalam upaya mencetak kader pemimpin bangsa yang berwawasan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, Unggul dalam imtaq dan imtek, Memiliki life skill yang berjiwa Entrepreneurship sesuai dengan visi misi Pondok Pesantren Nahdlatul Khairaat.

Salah satu tugas penyuluh yang sangat penting selain secara prosedural sebagai petugas lapangan adalah sebagai mediasi serta solusi dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi oleh petani yang menjadi binaannya. Hal tersebut tidak terlepas dari, rutinitas kunjungan baik secara perorangan maupun kelompok bahkan kunjungan secara masal. Dengan seringnya seorang penyuluh melakukan kunjungan diharapkan dapat meminimalisir setiap masalah yang dihadapi oleh petani bahkan kelompok yang dibinanya.

(29/07/21) Berkaitan dengan hal tersebut BPTP Sulawesi Tengah melakukan Bimbingan Teknis Pengolahan Limbah kepada para santri yang disampaikan oleh Penyuluh (Pujo Haryono, S.ST) dengan memanfaatkan limbah yang terdapat di lingkungan pondok pesantren menjadi produk yang dapat bermanfaat dan bernilai ekonomis sehingga dapat menekan biaya produksi dalam mengelola suatu usaha khususnya di bidang peternakan. Selain materi, Kegiatan dilanjutkan dengan praktek pengolahan limbah yang dilakukan oleh para santri (31/07/2021). 

Pimpinan Ponpes (Ustazd Hariyanto, BA.) sangat berharap dengan adanya kegiatan yang sifatnya peningkatan skill dapat terus berlanjut dan akan dijadikan sebagai program pembelajaran dengan harapan setelah lulus dari pondok ini santri mampu menciptakan lapangan kerja sendiri tanpa harus berbondong- bondong untuk berebut di kursi CPNS baik didaerah maupun nasional. Jayalah Pertanian Indonesia

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, terus menghilirkan program-program Badan Litbang Pertanian dan mendesiminasikan inovasi teknologi pertanian yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian kepada para pelaku usaha tani, salah satunya kelompok tani di Kota Palu. Pada hari Rabu, 21 Juli 2021, bertempat di Kelompok Tani Jamba tim BPTP Sulawesi Tengah menghadiri Panen Padi varietas Inpari 30 di Kota Palu. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BBP2TP, Plh. BPTP Sulawesi Tengah, Kabid Penyuluhan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah, Kabid Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Kota Palu dan tim, Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Pertanian Kota Palu, Lurah Pengawu, Peneliti/Penyuluh/Litkayasa BPTP Sulawesi Tengah, Penyuluh Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala BPP Duyu dan Penyuluh BPP Duyu serta anggota kelompoktani Jamba.

Inpari 30 telah dikenalkan di Kelompok Jamba sejak tahun 2019, dan telah digunakan oleh kelompok tani hingga saat ini. Secara deskriptif bahwa varietas padi unggul baru ini cocok ditanam di sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl di daerah luapan sungai, cekungan dan rawan banjir lainnya dengan rendaman keseluruhan fase vegetative selama 15 hari. Potensi hasil varietas ini adalah 9,6 ton/ha. Kelurahan Pengawu yang berada di Lembah Palu memenuhi persyaratan dari VUB tersebut.

Teknologi yang diperkenalkan oleh BPTP Sulawesi Tengah dan telah diadopsi oleh kelompoktani di Kelurahan Pengawu adalah varietas padi unggul, serta inovasi teknologi dalam hal model penanaman yaitu Jajar Legowo (Jarwo) 2:1. Jajar Legowo (Jarwo) 2:1 merupakan salah satu cara tanam padi sawah yang mengatur setiap dua barisan tanaman dan diselingi dengan satu barisan kosong (legowo) dengan penerapan jarak tanam, baik dalam barisan maupun antar barisan. Prinsip dari sistem tanam Jajar Legowo adalah meningkatkan populasi tanaman sekitar 30% dengan mengatur jarak tanam sehingga dapat meningkatkan produksi. Kelompoktani juga telah mampu menggunakan alat mesin tanam indo jarwo 2:1.

Dalam arahannya, Kepala BBP2TP (Dr. Ir. Fery Fahrudin Munier, M.Sc. IPU) menyatakan melalui inovasi teknologi yang telah dikenalkan tersebut diharapkan Kelompok Tani Jamba dapat terus meningkatkan produktivitas padi di lahan mereka dan menembus IP 400 sehingga dapat berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayahnya. Pendampingan oleh BPTP Sulawesi Tengah dan sinergitas dengan semua stakeholder terkait, diharapkan semakin memberikan hasil yang optimal dalam mendukung ketahanan pangan. Untuk keterbatasan modal, kelompok dapat mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dananya telah disiapkan oleh pemerintah, dimana saat ini untuk mengaksesnya sangatlah mudah.

Ketua Kelompoktani Jamba (Muchlis) dalam diskusi menyatakan kelompok menyenangi varietas Inpari 30 karena selain produktivitasnya yang tinggi juga cukup toleran terhadap serangan hama penyakit (berdasarkan hasil pengamatan di lahan mereka). Namun untuk musim tanam berikutnya tidak tersedia benih Inpari 30. Oleh Kepala. BBP2TP diarahkan agar kelompok dapat menjadi penangkar benih yang minimal dapat mencukupi kebutuhan benih di wilayahnya sendiri. BPTP Sulawesi Tengah dapat mendukung kelompok melalui bantuan benih sumber sedang sarana produksinya dapat dibantu oleh Dinas Pertanian di tingkat Provinsi ataupun Kota Palu. Jayalah Pertanian Indonesia