JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Infotek

Smart Feed Agrinak atau disingkat SFA merupakan aplikasi yang diciptakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian yang berfungsi untuk menyusun formulasi pakan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) sesuai dengan umur ayam KUB itu sendiri.

SFA hadir sebagai aplikasi formulasi pakan untuk ponsel berbasis android versi 1.0.0, yang sudah tersedia dan dapat diunduh secara gratis di Play Store. Melalui aplikasi SFA ini diharapkan akan membantu serta memudahkan peternak memformulasi sendiri pakan untuk ayam KUB, dari bahan baku pakan yang tersedia di wilayah sekitar mereka secara mudah. Dengan kata lain “hanya dengan sentuhan jari saja para peternak dimudahkan dalam menentukan pakan yang tepat untuk ternak ayam KUB-nya”.

Di era saat ini “hampir semua orang punya android”, dengan pertimbangan tersebut maka sangat diyakini bahwa penyusunan atau memformulasikan pakan dengan aplikasi di ponsel android relatif akan efektif dan sangat tepat untuk era saat ini.

Keunggulan Smart Feed Agrinak

Prinsip kerja aplikasi SFA ini mempertimbangkan standar kebutuhan nutrisi pada setiap status fisiologis dan umur ternak, batasan penggunaan bahan, serta harga termurah. Hasil formulasinya berupa persentase penggunaan setiap bahan, informasi kandungan nutrient pakan yang telah disusun, dan harga pakan termurah setiap satu kilogram. Dengan begitu maka peternak dapat mengetahui harga pakan termurah dan harga pakan termahal.

Secara teknis keunggulan dari aplikasi ini adalah jika bahan pakan yang digunakan ternyata memiliki kandungan nutrisi yang kurang atau bahkan lebih dari standar yang telah ditentukan, secara otomatis akan timbul tanda warning atau peringatan berwarna merah nilai di bawah persentasi standar. Nah kalau seperti itu kejadiannya. maka kita dapat memformulasikan ulang bahan pakan dengan cara menekan ‘back’ pada ponsel, agar mendapatkan formulasi yang tepat.

Keunggulan lain dari aplikasi SFA ini adalah formulasi tepat yang sudah diperoleh dapat disimpan hanya dengan cara menekan perintah ‘SIMPAN FORMULASI’ dalam bentuk foto yang secara otomatis langsung masuk ke galeri handphone/ untuk kemudian bisa dibagikan kepada orang lain. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran datanya akan hilang. Terlebih lagi aplikasi ini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, yakni hanya sekitar 9,0 mega byte sehingga sangat ringan untuk digunakan. 

Aplikasi ini dapat di unduh di https://bit.ly/DownloadSFA

Sumber:
- Badan Litbang Pertanian. 2019.Formulasi pakan gampang dengan Smart Feed Agrinak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

 

"Mengapa ada ruang yang kosong dan tidak tertanami di lahan sawah ini?” demikian pertanyaan yang terdengar dari pengunjung saat menyaksikan demonstrasi alat tanam padi indo jarwo 2:1 atau dikenal dengan rice transplanter indojarwo 2:1 (RTJ 2:1). Demonstrasi yang dilaksanakan di Desa Pakuli Utara Kecamatan Gumbasa pada Bulan Juli 2020 beberapa waktu lalu bertujuan memperlihatkan kepada petani dan masyarakat cara penggunaan alat tanam tersebut, dalam rangka aplikasi sistem tanam jajar legowo super"

Kerapatan tanam merupakan salah satu komponen penting dalam teknologi budidaya untuk memanipulasi tanaman dan mengoptimalkan hasil. Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan sistem tanam pindah, antara dua barisan tanaman terdapat lorong kosong memanjang sejajar dengan barisan tanaman dan dalam barisan menjadi setengah jarak tanam antar baris. Tujuannya adalah untuk meningkatkan populasi tanaman per satuan luas, perluasan pengaruh tanaman pinggir, dan mempermudah pemeliharaan tanaman. Sehingga dalam hamparan sistem tanam jarwo 2:1 akan nampak ruang kosong dan tidak tertanami sebagaimana pertanyaan tersebut di atas, dan hal ini tidak mengakibatkan terjadinya penurunan populasi karena jarak tanam dalam barisan dirapatkan dan menyebabkan populasi bertambah.

Jajar legowo super atau sering disingkat menjadi jarwo super adalah teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian. Teknologi ini adalah teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1. Penerapan teknologi jajar lgowo super secara utuh oleh petani diyakini mampu memberikan hasil minimal 10 ton GKG/ha per musim, sedangkan hasil padi yang diusahakan dengan sistem jajar legowo hanya 6 ton GKG/ha. Dengan demikian terdapat penambahan produktivitas padi sebesar 4 ton GKG/ha per musim.

Bagian penting dari teknologi jarwo super antara lain:

1. Varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi
2. Biodekomposer yang diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah atau pada saat pembajakan tanah ke dua.
3. Pupuk hayati diberikan pada benih diaplikasikan melalui perlakuan benih (seed treatment) dan pemupukan berimbang berdasarkan hasil pemeriksaan status hara tanah menggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS).
4. Pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali.
5. Alat dan mesin pertanian, khususnya penggunaan alat tanam jarwo (rice transplanter) pada saat tanam padi, dan mesin panen (combine harvester) pada saat panen.

Beberapa keunggulan yang melengkapi cara tanam jajar legowo super antara lain:
a. Pemberian biodekomposer pada saat pengolahan tanah ke dua mampu mempercepat proses pengomposan jerami.
b. Pemberian pupuk hayati sebagai perlakuan benih yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), menambat nitrogen dan melarutkan fosfat yang sukar larut serta meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah.
c. Pestisida nabati yang efektif dalam pengendalian hama tanaman padi, seperti wereng batang coklat (WBC).
d. Penggunaan alat mesin pertanian untuk penghematan biaya tenaga kerja serta pengurangan kehilangan hasil panen.

Aplikasi teknologi jajar legowo super di Sulawesi Tengah meliputi wilayah Kabupaten Poso Kabupaten Banggai dan Kabupaten Sigi. Di Kabupaten Poso menunjukkan hasil bahwa teknologi ini mampu meningkatkan produksi padi rata-rata 10 ton GKP/ha, dari semula 5,5 ton GKP/ha, Kabupaten Banggai menunjukan hasil rata- rata 8 ton GKP/ha dari sebelumnya 5 ton GKP/ha, dan Kabupaten Sigi hasil rata-rata mencapai 11 ton GKP/ha yang biasanya 5,5 GKP ton/ha. 

Sumber :
- Hasil Litkaji BPTP Sulawesi Tengah 2019
- Petunjuk Teknis Budidaya Padi Jajar Legowo Super, Badan Litbang Pertanian 2016

Peningkatan suhu udara dan kejadian iklim ekstrim menyebabkan dampak negatif perubahan iklim jauh lebih menonjol dibandingkan dampak positifnya. Selain terhadap tanaman dan ketersediaan air, perubahan iklim juga berdampak negatif terhadap tanah terkait dengan bahan organik, air tanah dan tingkat erosi. Untuk itu diperlukan langkah pengamanan berupa adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Inovasi teknologi mendukung antisipasi perubahan yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi pada tahun 2018/2019 terdiri atas: sistem informasi iklim untuk pertanian (SI-IKLIM), identifikasi lokasi dan pemanfaatan air permukaan untuk mengantisipasi iklim ekstrim dan meningkatkan intensitas pertanaman, pengembangan teknologi pemanfaatan air untuk meningkatkan IP, sistem informasi kalender tanam terpadu (SI-KATAM).

Sistem Informasi Iklim (SI-IKLIM) Untuk Pertanian

Peta informasi iklim untuk pertanian adalah peta yang berisikan prediksi berbagai informasi karakteristik curah hujan untuk 6 bulan ke depan yang secara rutin di perbaharui setap 3 bulan. Informasi dimaksud, meliputi : (a) Prediksi sifat curah hujan CH 3 bulanan; (b) Prediksi peluang curah hujan kurang dan lebih dari 50 mm/dasarian; (c) Prediksi peluang hari tanpa hujan > 10 hari berturut-turut; (d) Prediksi peluang hari hujan > 5 hari berturut-turut; (e) Prediksi peluang hujan ekstrem; (f) SPI-3 dan tren SPI-3.

Informasi bisa diakses di website https://balitklimat.litbang.pertanian.go.id

Integrasi Sumur Dangkal dan Sistem Irigasi Curah

Curah hujan tahunan yang rendah, juga tidak menyebabkan lahan kering iklim kering terhindar dari degradasi lahan yang disebabkan oleh erosi. Salah satu teknologi untuk mengatasi faktor pembatas tersebut adalah dengan menggunakan integrasi sumur dangkal dan sistem irigasi yang efisien. Dengan penerapan teknologi integrasi sumur dangkal dan sistem irigasi efisien ini dapat meningkatkan indeks pertanaman sehingga akan meningkatkan produktivitas usahatani yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan rumahtangga petani.

Sistem Infromasi Kalender Tanam Terpadu (SI-KATAM)

Balitbangtan  telah  meluncurkan  Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu (SI Katam Terpadu) untuk tanaman padi lahan irigasi yang merupakan salah satu bentuk informasi upaya adaptasi terhadap keragaman dan perubahan iklim. SI Katam Terpadu  menggambarkan potensi  pola  waktu  tanam untuk tanaman pangan, terutama padi, jagung, dan kedelai berdasarkan potensi dan dinamika sumberdaya iklim dan air. Pemanfaatan informasi estimasi kalender tanam yang dipadukan dengan informasi lain seperti wilayah rawan banjir, kekeringan, serangan OPT, varietas unggul  yang  tepat,  rekomendasi pemupukan yang  rasional, dan  pengawalan alat  mesin  pertanian (alsintan) yang intensif serta kecukupan nutrisi ternak dapat  memperkuat  ketahanan  pangan  nasional.

 
Informasi bisa diakses di website https://katam.litbang.pertanian.go.id/

Pemanfaatan dari sistem informasi ini adalah: (a) Mendukung Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), Program Lumbung Pangan Dunia 2025 dan program ketahanan pangan pada umumnya  dalam upaya menyikapi keragaman (variabilitas) dan perubahan iklim; (b) Mendukung budidaya tanaman pangan. Dengan kalender tanam dapat  diketahui  waktu  dan  pola  tanam  di  daerah tertentu selama setahun; (c) Memberikan informasi komoditas yang biasa ditanam pada suatu wilayah dari mulai persiapan lahan sampai dengan panen selama setahun; (d) Dapat digunakan pengambil kebijakan dalam menyusun perencanaan penyediaan sarana dan prasarana.

Sumber:
- Badan Litbang Pertanian. 2014. Road Map Penelitian dan Pengembangan Lahan Kering. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
- Balai  Penelitian  Agroklimat  dan  Hidrologi (Balitklimat). 2018. Memanfaatkan Informasi Prakiraan Iklim Untuk Pertanian. Info Agroklimat  dan  Hidrologi,  Vol.  13  (2).  April 2018.
- Mamat H.S., Sukarman. 2020. Manfaat Inovasi Teknologi Sumberdaya Lahan Pertanian dalam Mendukung Pembangunan Pertanian. Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 14 No. 2, Desember 2020: 115-132.
- Soeharsono,Yogi P Rahardjo,I Ketut Suwitra. 2015. Kalender Tanam Terpadu Solusi Cerdas Bagi Petani Ditengah Perubahan Iklim. BPTP Sulawesi Tengah.
- Syafruddin, Agustinus N, A. Negara, J. Limbongan. 2004. Penataan Sistem Pertanian dan Penetapan Komoditas Unggulan Berdasarkan Zona Agroekologi di Sulawesi Tengah. Jurnal Litbang Pertanian, 23 (2), 2004.
- Tim Katam Terpadu. 2020. Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu Versi 3.1. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

 

Teknologi drone saat ini berkembang dengan pesat. Dulu, pemanfaatan drone hanya dilakukan secara terbatas, seperti dalam militer. Namun revolusi industri sekarang sudah jauh berbeda. Drone sudah menjadi produk teknologi yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, tidak terkecuali oleh para petani. Drone digunakan terutama untuk pertanian dengan lahan skala luas. Seperti lahan padi, jagung dan perkebunan. Keterbatasan mata manusia untuk mengawasi hamparan luas, dapat diatasi dengan menggunakan drone pertanian yang dapat menangkap citra dari atas dan memberikan informasi penting mengenai kondisi tanaman dan lingkungan disekitarnya sehingga lebih akurat dan lebih jelas dibandingkan foto citra satelit bahkan secara live.

Tahun 2019 pemerintah menargetkan penumbuhan 534 komando strategis pembangunan pertanian yang terdiri dari 400 Kostratani, 100 Kostrada, dan 34 Kostrawil. Sedangkan jumlah BPP yang menjadi target percontohan sebanyak 100 BPP di 13 Provinsi sentra pangan dan pertanian lainnya. Ke-13 provinsi itu yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Drone adalah pesawat terbang tanpa awak kapal atau disebut juga dengan UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Drone sendiri merupakan jenis pesawat dengan perangkat flight control menggunakan GPS dan kamera standar yang dikendalikan oleh perangkat autopilot itu sendiri menggunakan waypoint yg sudah di tetapkan melalui ground control dari darat sehingga bisa membuat foto udara untuk peta atau gambar dengan resolusi yang tinggi.

4 Manfaat Penting Drone Yang Bisa di Aplikasikan Petani

  1. Analisis Lahan dan Kesuburan Tanah
    Drone juga memiliki kemampuan dalam melakukan pemetaan kondisi lahan secara 3 dimensi. Selanjutnya, petani bisa menggunakan data tersebut untuk analisis kondisi lahan. Hasil analisis bisa dipakai untuk menentukan pola penanaman bibit yang maksimal untuk melakukan penanaman bibit. Selain itu Drone dapat digunakan untuk mengambil citra permukaan tanah sekaligus menganalisis kondisi kandungan tanah. Jika dalam satu hamparan terdeteksi mengandung unsur hara tidak merata, maka dosis pemberian pupuk bisa diberikan sesuai dengan kondisi tanah. Artinya dalam satu blok bisa diberikan lebih banyak pupuk dibandingkan blok lainnya jika terdeteksi kurang hara.

  2. Aplikasi Penanaman Benih Otomatis
    Penanaman benih menggunakan drone memungkinkan proses penanaman berlangsung dengan lebih cepat kemampuan untuk menembakkan benih ke permukaan tanah dengan menentukan jalur terbang dan luasan area yang ditentukan sehingga penanaman akan jauh lebih akurat dan presisi.

  3. Aplikasi Sprayer Pemberian Nutrisi Pupuk atau Pestisida
    Berbeda dengan fungsi pencitraan, fungsi aplikasi penyemprotan bisa digunakan untuk mengganti tenaga penyemprotan secara manual. Dengan drone penyemprotan bisa lebih cepat, hemat air dan merata di waktu yang sama juga berguna untuk mengurangi biaya untuk ongkos penanaman mencapai 85 persen.

  4. Analisis Kesehatan Tanaman dan Identifikasi Hama/Penyakit
    Drone yang disertai dengan sensor thermal, hyperspectral, atau multispectral, bisa Anda manfaatkan untuk melihat kondisi pertanaman anda. hasil pencitraan dari drone dapat menilai apakah target yang diamati mengandung vegetasi hijau hidup atau tidak. Tanaman yang sakit akan terlihat menunjukkan suatu warna yang berbeda dibandingkan tanaman normal. Kemudian identifikasi perkembangan hama, gulma atau penyakit bisa terdeteksi lebih akurat melalui hasil pencitraan yang akan menunjukan bentuk, rona dan warna berbeda. Sehingga titik penyebaran hama/penyakit bisa terdeteksi dan segera dilakukan pencegahan secepatnya.

Kehadiran teknologi drone di sektor pertanian memberikan harapan yang besar bagi petani dalam pengelolaan lahannya secara lebih efektif akurat dan ramah lingkungan, terlebih lagi dengan adanya program komando strategis pembangunan pertanian yang terdiri dari 400 Kostratani, 100 Kostrada, dan 34 Kostrawil akan mampu menunjang pertanian yang Maju, Mandiri dan Modern.

 

 

 

 

 

 


Sumber:

-DJI. 2019. Drone Dengan Pencitraan Multispektral Untuk Agrikultur.
-Kementerian Pertanian. 2019. Pedoman Kostratani.
-Khoirunisa H, Kurniawati F. 2019. Penggunaan Drone Dalam Mengaplikasikan Pestisida di Daerah Sungai Besar. Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat. Vol 1 (1) 2019: 87–91
-Shofiyanti, R.2011. Teknologi Pesawat Tanpa Awak Untuk Pemetaan Dan Pemantauan Tanaman Dan Lahan Pertanian. Informatika Pertanian, Vol. 20 (2) 2011 : 58 - 64

Sampesuvu Sararaku…

Kali ini kami akan menyajikan teknologi pembuatan tepung pisang. Pisang yang digunakan sebaiknya adalah pisang kepok. Tepung pisang ini dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kue, mie atau pun penganan lainnya, sehingga dapat mengurangi penggunaan tepung terigu. Bagaimana cara pengolahannya… yuuk kita ikuti informasi berikut. Pada kesempatan ini disajikan praktek teknik pembuatan tepung pisang yang dilakukan oleh Ibu-Ibu Wanita Tani di Desa Lambara Kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi. Di desaini potensi pisang cukup banyak sehingga para Ibu terdorong untuk melakukan pemanfaatan pisang menjadi tepung, meskipun selama ini pisang diolahhanya sebatas menjadi gorengan dan keripik. Bahan yang diperlukan sebagai berikut:

  • Buah pisang segar, biasanya jenis pisang yang digunakan adalah pisang kapok dengan tingkat kematangan cukup agar kandungan patinya maksimal.
  • Starter Bimo CF secukupnya
  • Air bersih

Adapun alat yang dibutuhkan sebagai berikut :

  • Pisau yang tajam untuk mengupas dan mengiris pisang
  • Wadah berupa baskom untuk menempatkan pisang yang telah dikupas dan diiris
  • Mesin atau alat sawut yang tidak mengalami karat
  • Wadah untuk menjemur pisang
  • Timbangan sederhana untuk mengukur berat sawutan pisang
  • Gilingan tepung
  • Ayakan
  • Kemasan plastik

Cara Membuatnya :

  1. Siapkan dan pilih pisang yang bagus atau tidak rusak,
  2. Siapkan wadah/baskom yang diisi air bersih untuk mencuci pisang, pastikan alat-alat lainnya dalam keadaan bersih dan tidak berbau
  3. Lepaskan dari sisirnya, kemudian cuci hingga getah dan kotoran yang melekat hilang
  4. Kupas pisang, kemudian disawut atau diiris tipis-tipis
  5. Irisan pisang yang diperoleh kemudian direndam dalam air bersih, kemudian tambahkan dengan Bimo CF. Perbandingannya 1 kg sawutanpisang : 1 gram Bimo CF : 1 liter air.
  6. Lakukan perendaman selama 12 jam, lalu sawutan pisang dipisahkan dari air perendaman dengan jalan ditiriskan.
  7. Atur sawutan pisang di atas wadah penjemuran. Gunakan wadah penjemuran yang bagian bawahnya berlubang-lubang untuk sirkulasi udara pada saat penjemuran.
  8. Lakukan penjemuran di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering (biasanya berlangsung 2-3 hari). Sawutan pisang yang benar-benar telah kering ditandai dengan sawutan mudah dipatahkan.
  9. Giling sawutan pisang yang telah kering tersebut, kemudian hasil gilingan tersebut lalu diayak,
    Tepung pisang siap untuk dikemas atau digunakan sebagai bahan utama atau tambahan dalam pembuatan olahan pangan.

Penggunaan pupuk anorganik diyakini dapat meningkatkan produktifitas tanaman namun penggunaan dalam jangka panjang dapat menurunkan kesuburan tanah. Beberapa pengaruh negatif pupuk anorganik terhadap tanah adalah tanah menjadi masam, tekstur tanah menjadi keras dan padat, kapasitas penyimpanan air menjadi berkurang, kandungan unsur hara akan menurun, mikroorganisme tanah menjadi berkurang dan mati, dapat mencemari dan mengganggu keseimbangan lingkungan. Salah satu usaha untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik adalah dengan pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan sebagai pupuk organik.


Beberapa keuntungan atau kelebihan pupuk organik adalah bahwa pupuk organik mempunyai kandungan unsur hara yang lengkap baik hara makro maupun mikro. Kandungan bahan organik yang tinggi sehingga dapat memperbaiki struktur maupun sifat fisik tanah sehingga mampu mengikat air. Selain itu pupuk organik mengandung asam-asam organik seperti asam humic, asam fulic, dan hormon yang sangat baik untuk tumbuhan. Pupuk organik juga dapat menjadi penyangga pH tanah sehingga unsur hara tanah berada dalam kondisi tersedia bagi tanaman. Dan yang terakhir, bahwa pupuk organik aman digunakan dalam jumlah yang besar, aman bagi manusia, tumbuhan maupun aman bagi lingkungan


Limbah pertanian dan peternakan yang banyak berlimpah disekitar kita adalah kotoran ternak sapi dan dedak padi. Limbah tersebut dapat menjadi produk yang benilai tinggi bila diolah menjadi pupuk organik. Adapun cara pembuatan pupuk organik dari limbah kotoran ternak sapi dan dedak padi diuraikan sebagai berikut :

Bahan yang digunakan :
• Kotoran ternak sapi 500 kg
• Dedak padi 25 kg
• Tetes tebu (molasses) 1 liter
• Probiotik lokal (prolog) 1 liter
Peralatan yang digunakan :
• Drum plastik 100 ltr 5 buah
• Ember 2 buah
• Sekop 2 buah

Cara Pembuatan
• Campurkan tetes tebu dan probiotik ke dalam ember dan tambahkan air secukupnya
• Hamparkan kotoran ternak secara bertahap (per 100 kg) kemudian taburkan dedak padi secara merata, setelah itu semprotkan campuran probiotik dan molasses secara merata. Perlakuan tersebut dilakukan hingga kotoran ternak sebanyak 500 kg habis.
• Kemudian campuran kotoran ternak diaduk menggunakan sekop/cangkul hingga merata sampai pada kondisi kotoran yang siap di fermentasi (dapat menyatu bila dikepal dengan tangan). Jika kotoran ternak dalam kondisi kering maka saat pencampuran ditambahkan air secukupnya.
• Selanjutnya masukkan capuran ke dalam drum plastik dan dipadatkan hingga penuh.
• Tutup rapat drum sehingga proses fermentasinya dalam kondisi kedap udara (anaorob)
• Kemudian simpan ditempat yang aman dan tidak terkena sinar matahari langsung selama 2-3 minggu dan amati perubahan suhunya.
• Puncak perubahan suhu terjadi pada minggu kedua hingga pertengahan minggu ketiga dengan kisaran suhu antara 40 - 60 oC
• Menjelang akhir proses fermentasi pada minggu ketiga suhu mulai menurun hingga mencapai suhu normal 36 – 37 oC.
• Sebelum dikemas atau digunakan sebaiknya pupuk organik yang telah jadi diangina-anginkan untuk menghilangkan gas methane yang tersisa setelah proses fermentasi
• Setelah diangin-anginkan pupuk organik dapat dikemas atau langsung dapat diaplikasikan ke tanaman

 

Tungro merupakan salah satu penyakit pada tanaman padi disebabkan oleh virus, kejadian penyakit tungro di suatu daerah atau wilayah tidak serta merta terjadi secara tiba-tiba, kejadian penyakit tungro biasanya terjadi dikarenakan adanya faktor pendukung di wilayah tersebut. Keberadaan penyakit tungro pada tanaman padi tidak terlepas dari adanya sumber inokulum serta vector pembawa penyakit tungro yaitu wereng hijau (Nephotettix spp), kondisi lapangan menunjang perkembangan kedua factor tersebut dapat menyebabkan penyebaran penyakit tungro. Menurut Baehaki dan Hendarsih, 1995 kondisi lingkungan seperti penggunaan varietas yang rentan wereng hijau atau rentan tungro, tersedianya tanaman padi yang terus menerus, demikian juga faktor iklim seperti curah hujan dan kecepatan angin akan mempercepat penyebaran penyakit tungro.

Inokulum penyakit tungro dapat berasal singgang atau rumput inang yang sakit, selain itu keberadaan gulma di pertanaman atau pematang dapat menjadi inang alternatif virus tungro. Perpindahan virus ke tanaman inang dapat dilakukan dengan serangga vektor secara semi persisten. Wereng hijau dan wereng loreng merupakan vektor utama virus penyebab penyakit tungro. Di antara spesies wereng hijau dan wereng loreng terdapat perbedaan efisiensi menularkan virus. Rentang efisiensi penularan virus oleh populasi N. virescens antara 35 % -83%, sedangkan oleh N. nigropictus antara 0-27%. Spesies wereng hijau lainnya seperti N. malayanus dan N. parvus memiliki kemampuan menularkan virus berturut-turut 40% dan 7% (Hasanuddin, 2002).

Salah satu teknik pengendalian penyakit tungro yang murah dan efisien adalah penggunaan varietas tahan. Di beberapa daerah endemik tungro terbukti bahwa penanaman varietas tahan vektor wereng hijau secara terus-menerus tidak dapat bertahan lama, karena serangga wereng hijau (N. virescens) cepat beradaptasi pada varietas tersebut. Widiarta menyatakan bahwa hampir semua golongan varietas tahan wereng hijau (T0-T4) tidak tahan lagi terhadap koloni wereng hijau. Sehingga disarankan untuk menggunakan sumber tetua lainnya atau menggunakan varietas tahan virus.

Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan beberapa varietas unggul baru (VUB) padi tahan tungro diantaranya Inpari 7 Lanrang, Inpari 8 Taro, Inpari 9 Elo, Inpari 36 Lanrang, dan Inpari 37 Lanrang. Adapun deskripsi dari masing-masing varietas tersebut:

a. Inpari 7 Lanrang berumur 110-115 hari setelah tanam, bertipe tanaman tegak, dengan tinggi tanaman 104 cm. Varietas ini mempunyai bentuk gabah panjang, warna gabah kuning bersih, dengan gabah bobot 27,4 gram/ 1000 butir, jumlah anakan produktif ±16 anakan, bertekstur nasi pulen dengan kandungan amilosa 20,78%. Rata-rata produksi hasil panen 6,23 t GKG/ha, dengan potensi hasil 8,7 ton/ha. Keunggulan padi Inpari 7 Lanrang ini memiliki tingkat produksi tinggi, agak tahan terhadap HDB ras III, agak rentan ras IV dan VIII, agak tahan penyakit virus tungro varian 013, cocok ditanam pada ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl.

b. Inpari 8 termasuk padi sawah yang memiliki rumpun tanaman yang agak tegak, adalah golongan Cere yang berumur 125 hari setelah tanam, bertipe tanaman tegak, dengan tinggi ±113 cm. Varietas ini mempunyai bentuk gabah panjang dan ramping, warna gabah kuning bersih, bobot gabah 27,4 g/1000 butir, dan jumlah anakan produktif ±19 anakan/rumpun. Rata-rata varietas ini mencapai 6,25 ton GKG/ha, tekstur nasi pulen, dan kandungan amilosa 21%, cocok ditanam di lahan irigasi dengan ketinggian 600 m dpl, agak tahan penyakit HDB ras III dan penyakit tungro inokulum No. 073; tahan penyakit tungro inokulum No. 013 dan 031.

c. Inpari 9 Elo termasuk padi sawah berumur 125 hari, bertipe tanaman tegak, tinggi ±113 cm. Varietas ini mempunyai bentuk gabah panjang dan ramping, warna gabah kuning bersih, dengan bobot gabah 22,8 g/1000 butir, jumlah anakan produktif ±18 anakan/rumpun. Keunggulan varietas ini mempunyai tekstur nasi pulen, kandungan amilosa 20,46 %, rata-rata produksi 6,41 ton GKP/ha. Cocok ditanam di lahan irigasi dengan ketinggian 600 m dpl. Agak tahan penyakit HDB ras III dan tungro inokulum No. 073, 031, 013.

d. Inpari 36 Lanrang ini dilepas tahun 2015 dengan umur ± 114 hari setelah sebar. Selain tahan terhadap tungro varian 073 dan tahan penyakit blas ras 033 dan ras 073, varietas Inpari 36 Lanrang nasinya bertekstur pulen. Untuk potensi hasilnya bisa mencapai 10,0 t/ha GKG dengan rata-rata hasil ± 6,7 t/ha GKG.

e. Inpari 37 Lanrang termasuk padi sawah berumur 136 hari, bertipe tanaman tegak, tinggi ±113 cm. Varietas ini mempunyai bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, dengan bobot gabah 22,8 g/1000 butir, jumlah anakan produktif ±18 anakan/rumpun. Keunggulan varietas ini mempunyai tekstur nasi pulen, kandungan amilosa 25,00%, rata-rata produksi 6,30 ton GKP/ha, dengan potensi hasil 9,1 ton/ha Cocok ditanam di lahan irigasi dengan ketinggian 600 m dpl. Agak tahan penyakit HDB strai III dan IV, tungro inokulum No. 073, dan agak tahan blas ras 0073 dan ras 033.

Beberapa pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya :

a. Penggunaan varietas unggul baru tahan tungro, penggunaan varietas lama secara terus-menerus oleh petani mengakibatkan Ketahanan yang dimiliki oleh varietas padi sudah rentan terhadap dua virus tungro yaitu RTSV (Rice Tungro Spherical Virus) dan RTBV (Rice Tungro Bacilliform Virus). Rice Tungro Virus terdiri dari virus berbentuk Batang (RTBV) dan berbentuk Spiral (RTSV) tidak berkembang pada tubuh wereng hijau, virus tersebut tidak menular pada telur dari vector virus dan hilang pada saat vector ganti kulit. Virus hanya tinggal sementara pada vektor. Wereng hijau yang telah mendapatkan virus segera dapat menularkan virus secara terus menerus (Ling, 1987).

b. Tanam serempak, dengan luasan minimal 20 ha akan memperpendek waktu keberadaan sumber inokulum atau waktu perkembangbiakannya

c. Kombinasi strategi pengendalian yang ramah lingkungan, diantaranya pestisida nabati untuk mengendalikan populasi wereng hijau Nephotettix virescens yang merupakan vektor dari penyakit tungro. Pestisida nabati yang dikembangkan oleh Loka Penelitian Penyakit Tungro yaitu dengan memanfaatkan ekstrak sambilata dan cendawan entomopatogen berupa cendawan Metarhizium anisopliae dengan sebutan larutan andrometa. Ekstrak sambilata merupakan pestisida nabati yang berasal tanaman sambiloto. Fungsi dari sambiata ini sebagai anti feed (penolak makan) serangga dikarenakan aroma yang dikeluarkan dari ekstrak tanaman sambioto yang tidak disenangi oleh serangga vektor. Hasil penelitian Kusdiaman dan I Nyoman Widiarta (2008) bahwa aplikasi ekstrak daun sambilata pada konsentrasi 1000 ppm mempengaruhi lokasi mengisap wereng hijau dari floem ke jaringan kayu (xylem). Sehingga dapat dikatakan bahwa aplikasi ekstrak daun sambilata dapat mengurangi kemampuan wereng hijau dalam mendapatkan dan menularkan virus tungro yang berkembang biak di jaringan floem.

Sedangkan cendawan Metarhizium anisopliae merupakan salah satu cendawan entomopatogen yang telah lama digunakan sebagai agen hayati dengan cara kerja menginfeksi beberapa jenis serangga di lapangan.

Cara pembuatan larutan pestisida ini dengan mencampur ekstrak sambilata dan larutan jamur metarhizium. Ekstrak sambilata didapatkan dari perendaman daun sambilata dan batang kering dalam alkohol untuk melepaskan klorofil daun. Larutan metarhizium didapatkan dari hasil isolasi jamur entromopatogen M. anisopliae ke dalam larutan air agar terlarut sempurna. Kedua larutan ini dicampur dan dapat diaplikasikan sebagai pestisida nabati pada pertanaman padi untuk mengendalikan wereng hijau sebagai vektor penyakit tungro.

Sumber:
- Juknis Loka Penelitian Penyakit Tungro 2020

Ubi kayu merupakan pangan lokal yang ada di seluruh wilayah Sulawesi Tengah, dimana di tahun 2014 luas panennya sebesar 4.074 ha dengan produksi 84.688 ton. Ubi kayu dengan besaran produksi tersebut berpotensi untuk diolah menjadi berbagai macam olahan. Umumnya ubi kayu di Sulawesi Tengah, diolah dalam bentuk rebusan ataupun gorengan. Padahal selain bentuk olahan tersebut di atas, dengan sedikit sentuhan teknologi maka ubi kayu dapat diolah ke bentuk lain sehingga terjadi diversifikasi dari olahan ubi kayu tersebut.  Penganekaragaman olahan ubi kayu selain dapat meningkatkan nilai jual ubi kayu, juga dapat mengatasi masalah hasil-hasil pertanian dalam bentuk segar, dimana secara umum pangan segar merupakan produk mudah rusak dengan daya guna terbatas dan daya simpan rendah atau tidak awet.

Salah satu olahan ubi kayu yang mudah untuk dibuat adalah tepung ubi kayu. Tepung ubi kayu merupakan produk intermediete atau antara, yang nantinya dapat diolah lebih lanjut menjadi aneka olahan pangan.  Tepung ubi kayu yang biasa dibuat tanpa adanya penambahan bahan lain selain ubi kayu menghasilkan tepung yang kurang putih dan aroma ubi kayu yang terikut cukup banyak. Untuk memperbaiki mutu tepung ubi kayu, maka muncullah teknologi pembuatan mocaf atau modified cassava flour yang merupakan hasil penelitian dari Balai Besar Pascapanen Kementerian Pertanian. Mocaf dibuat dengan menambahkan starter BIMO CF pada pembuatan tepung ubi kayu. Starter Bimo-CF berbentuk tepung dengan bahan aktif bakteri asam laktat. Penambahan BIMO CF pada pembuatan tepung ubi kayu membuat tepung yang dihasilkan lebih putih dari tepung ubi kayu biasa dan dapat mengurangi aroma ubi kayu yang terikut pada tepung.

Selengkapnya....

Apa itu silase? silase merupakan pakan hijauan ternak yang diawetkan yang disimpan dalam drom plastik atau kantong plastik yang kedap udara dan sudah mengalami proses fermentasi dalam keadaan tanpa udara atau anaerob. Proses silase ini melibatkan bakteri-bakteri atau mikroba yang membentuk asam susu, yaitu Lactis Acidi dan Streptococcus yang hidup secara anerob dengan derajat keasaman 4 (pH 4).

Melimpahnya limbah hasil pertanian khususnya jagung pada musim panen merupakan suatu kesempatan bagi peternak untuk menyimpan pakan cadangan untuk persiapan di musim kemarau. Tapi bagaimana caranya pakan tersebut yang disimpan tidak kering dan nilai gizi atau protein tidak berkurang, dan pakan tersebut dapat disimpan selama 1 bulan, 2 bulan atau 6 bulan bahkan 1 tahun. Untuk itu diperkenalkan salah satu teknologi pengawetan pakan dari limbah jagung untuk pakan ternak yaitu Silase.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat silase yaitu:
a. Brangkas jagung sebanyak 30 kg.
b. Probiotik 50 ml (5 tutup botol)
c. Bekatul sebanyak 3 kg (10% dari 30 kg brangkas jagung),
d. Molasses sebanyak 500 ml, e. Air secukupnya.

 

Alat yang dibutuhkan adalah:
a. Timbangan berdiri untuk menimbang brangkas jagung,
b. Timbangan duduk untuk menimbang bekatul,
c. Ember untuk mencampur molasses dan probiotik serta air,
d. Drum plastik untuk silo, katup sebagai pengunci tutup drum,
e. Parang/pisau untuk mencincang brangkas jagung,
f. Terpal untuk alas

Pembuatan silase dapat dilakukan dengan cara menimbang semua bahan yaitu brangkas jagung sebanyak 30 kg, bekatul 3 kg, molasses sebanyak 500 ml dan probiotik sebanyak 50 ml. Cincang brangkas jagung menjadi potongan-potongan kecil, lalu hamparkan brangkas jagung di atas lantai yang bersih.

Campur probiotik, molasses dan air dalam ember yang bersih, kemudian percikan pada brangkas jagung secara merata. Taburkan bekatul pada brangkas jagung secara merata. Tambahkan air jika tingkat kebasahan campuran kurang dan belum merata. Aduk/campur semua bahan secara merata dengan membolak-balikkan brangkas jagung.

Masukkan hasil campuran ke dalam drum (silo) sedikit demi sedikit, sambil dipadatkan (diinjak-injak), agar udara yang ada dalam drum dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali.

Setelah semua bahan campuran dimasukkan, maka silo ditutup dengan katup serapat mungkin, agar tidak ada udara yang masuk dan proses ensilase (pembuatan silase) secara an-aerob berjalan baik. Bila dalam proses pembuatan silase suasana kedap udara tidak 100% maka bagian permukaan silase sering terkontaminasi dan ditumbuhi oleh bakteri lain yang merugikan seperti bakteri Clostridium tyrobutyricum yang mampu mengubah asam laktat menjadi asam butirat (Driehuis dan Giffel 2005).

Diamkan hingga 14-21 hari, letakkan di tempat yang tidak terkena hujan dan sinar matahari secara langsung. Pada hari ke-14, buka tutup silo untuk memeriksa kondisi brangkasan jagung, periksa brangkasan jagung tersebut, jika tercium bau beraroma seperti tape dan suhu brangkasan + 370-380C maka proses pembuatan silase berjalan dengan baik.

Untuk hasil maksimal, maka drum/silo ditutup kembali dengan rapat dan dibiarkan hingga hari ke-21. Pada hari ke-21, buka silo dan periksa kembali, proses pembuatan silase dari brangkasan jagung dinyatakan berhasil jika saat silo dinuka tercium aroma seperti tape dengan suhu normal (+ 370-380C). Silase kemudian dikeluarkan dari drum untuk diangin-anginkan. Setelah dianging-anginkan silase siap diberikan ke ternak sebagai pakannya. Jumlah silase yang diberikan untuk ternak sesuai dengan kondisi ternak yang dimiliki, pada umumnya jumlah silase untuk pakan 20% dari bobot badan sapi.

Teknologi ini sangat tepat untuk diterapkan di lokasi pasca bencana dan sangat sederhana serta mudah untuk diterapkan oleh petani karena limbah yang digunakan ada di sekitar lingkungannya serta biayanya juga cukup murah. Dengan teknologi ini diharapkan dapat membantu peternak dalam menyiapkan cadangan untuk pakan ternaknya di saat mengalami kesulitan pakan untuk ternak yang dipeliharanya. Jayalah Pertanian Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Bacaan:
-Alamsyah, R. 2005. Pengolahan Pakan Ayam dan Ikan Secara Modern. Penebar Swadaya. Bogor Anonim, 2014. Laporan Hasil Analisa Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan. Bekasi.
-Bunyamin Z, Roy Efendi Dan N.N. Andayani, 2013 Pemanfaatan Limbah Jagung Untuk Industri Pakan Ternak Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian.
-Djanah D.1985. Beternak Ayam dan Itik. CV. Yasaguna. Jakarta.
-https://agroteknomandiri.blogspot.com/2012. Berapa Ton Jerami dalam 1 Hektar.
-IPB, 2014. Laporan Akhir Kegiatan Pengembangan Teknologi Pakan Ternak di Kabupaten Bangka Barat. 2014. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bangka Barat dengan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
-Rahadi S. 2008. Pembuatan Amoniasi Urea Jerami Padi. Sulawesi Selatan.

-Sirait J dan K. Simanihuruk. 2010. Potensi dan Pemanfaatan Daun Ubikayu d.an Ubi jalar sebagai Sumber Pakan Ternak Ruminansia Kecil. Loka Penelitian Kambing Potong. Sumatera Utara.
-Widayati E dan Widalestari Y. 1996. Limbah untuk Pakan Ternak. Trubus Agrisarana. Surabaya.
-Yani Y., 2011. Pemanfaatan Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak Ruminansia. pertanian293.blogspot.com

Pesemaian merupakan salah satu tahapan penting dalam budidaya tanaman yang mengharuskan untuk itu.  Banyak cara yang biasa dilakukan dalam pesemaian, diantaranya metode sebar, menggunakan polybag, plastik es mambo, daun pisang, dan lainnya.

Saat ini telah dikembangkan metode pesemaian dengan menggunakan alat bantu yang hasilnya nanti akan menjadi blok atau kotak tanah, atau yang biasa diistilahkan soil block.  Alatnya terbuat dari aluminium, dimana terdapat kotak berbentuk segi empat dan ditengahnya diberi besi bulat yang fungsinya sebagai lubang tanam.  Daya kerjanya dibantu oleh pegas/per tekan.  Banyaknya kotak tanah tergantung dari keinginan kita, mulai 50 hingga 100 kotak tanah.  Alat ini merupakan buah karya petani Jawa Tengah Eka Mardiana.
Banyak keunggulan dari soil block, diantaranya:
1)    Hemat media tanam
2)    Hemat air untuk penyiaraman
3)   Lebih cepat dan mudah pengerjaan pesemaian dibandingkan bila menggunakan polybag
4)    Tidak membutuhkan ruang yang besar dan mudah pengangkutannya (sekali angkut bibit dapat mencapai 500 pohon
5)    Bibit tanaman tidak mengalami stres saat pindah tanam
6)    Pertumbuhannya lebih cepat
7)    Ramah lingkungan Itidak meninggalkan sampah plastik)


Bahan campuran media relatif mudah didapat.  Bahan yang dibutuhkan:
1)    1 bagian kapur pertanian
2)    1 bagian rock phosphat (phosfat alam)
3)    6 bagian pupuk kandang yang matang
4)    6 bagian cocopeat (sabut kelapa yang dihancurkan jadi serbuk).  Bahan ini dapat diganti dengan arang sekam
5)    6 bagian tanah


Cara membuat:
1.    Campurkan semua bahan di atas, pisahkan 1/3 bagian untuk bahan penutup lubang soil block
2.    Ambil air, tuang sedikit demi sedikit di atas 2/3 campuran media hingga menyerupai adonan kue.
3.    Masukkan adonan ke dalam cetakan dengan cara membalikkan alat sehingga kotaknya menghadap ke atas. Tekan-tekan adonan yang telah dimasukkan dalam kotak hingga menjadi padat.
4.    Siapkan nampan kayu dengan ukuran lebar disesuaikan dengan alat soil block.  Sedangkan panjangnya diperkirakan dapat menampung 5-10 cetakan.  Sedapat mungkin kaki alat berada di luar nampan kayu.
5.    Letakkan alat soil block yang telah berisi adonan media dengan cara membalikkan di atas nampan kayu.  Tekan 2-3 kali secara berulang pegas alat, agar medianya tercetak dengan baik
6.    Siapkan benih biji yang sebelumnya telah diberi pestisida (seed treatment)
7.    Masukkan benih dalam lubang tanam satu persatu dan tutup dengan media yang tidak dibasahi dengan air (1/3 bagian bahan yang disisihkan).
8.    Simpan ditempat teduh dan terhindar dari hewan ternak yang dapat merusak pesemaian.

Selamat mencoba...