JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Pengendalian Penyakit Tungro Menggunakan Varietas Inpari 36 Lanrang

Pin It

Tungro merupakan salah satu penyakit pada tanaman padi disebabkan oleh virus, kejadian penyakit tungro di suatu daerah atau wilayah tidak serta merta terjadi secara tiba-tiba, kejadian penyakit tungro biasanya terjadi dikarenakan adanya faktor pendukung di wilayah tersebut. Keberadaan penyakit tungro pada tanaman padi tidak terlepas dari adanya sumber inokulum serta vector pembawa penyakit tungro yaitu wereng hijau (Nephotettix spp), kondisi lapangan menunjang perkembangan kedua factor tersebut dapat menyebabkan penyebaran penyakit tungro. Menurut Baehaki dan Hendarsih, 1995 kondisi lingkungan seperti penggunaan varietas yang rentan wereng hijau atau rentan tungro, tersedianya tanaman padi yang terus menerus, demikian juga faktor iklim seperti curah hujan dan kecepatan angin akan mempercepat penyebaran penyakit tungro.

Inokulum penyakit tungro dapat berasal singgang atau rumput inang yang sakit, selain itu keberadaan gulma di pertanaman atau pematang dapat menjadi inang alternatif virus tungro. Perpindahan virus ke tanaman inang dapat dilakukan dengan serangga vektor secara semi persisten. Wereng hijau dan wereng loreng merupakan vektor utama virus penyebab penyakit tungro. Di antara spesies wereng hijau dan wereng loreng terdapat perbedaan efisiensi menularkan virus. Rentang efisiensi penularan virus oleh populasi N. virescens antara 35 % -83%, sedangkan oleh N. nigropictus antara 0-27%. Spesies wereng hijau lainnya seperti N. malayanus dan N. parvus memiliki kemampuan menularkan virus berturut-turut 40% dan 7% (Hasanuddin, 2002).

Salah satu teknik pengendalian penyakit tungro yang murah dan efisien adalah penggunaan varietas tahan. Di beberapa daerah endemik tungro terbukti bahwa penanaman varietas tahan vektor wereng hijau secara terus-menerus tidak dapat bertahan lama, karena serangga wereng hijau (N. virescens) cepat beradaptasi pada varietas tersebut. Widiarta menyatakan bahwa hampir semua golongan varietas tahan wereng hijau (T0-T4) tidak tahan lagi terhadap koloni wereng hijau. Sehingga disarankan untuk menggunakan sumber tetua lainnya atau menggunakan varietas tahan virus.

Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan beberapa varietas unggul baru (VUB) padi tahan tungro diantaranya Inpari 7 Lanrang, Inpari 8 Taro, Inpari 9 Elo, Inpari 36 Lanrang, dan Inpari 37 Lanrang. Adapun deskripsi dari masing-masing varietas tersebut:

a. Inpari 7 Lanrang berumur 110-115 hari setelah tanam, bertipe tanaman tegak, dengan tinggi tanaman 104 cm. Varietas ini mempunyai bentuk gabah panjang, warna gabah kuning bersih, dengan gabah bobot 27,4 gram/ 1000 butir, jumlah anakan produktif ±16 anakan, bertekstur nasi pulen dengan kandungan amilosa 20,78%. Rata-rata produksi hasil panen 6,23 t GKG/ha, dengan potensi hasil 8,7 ton/ha. Keunggulan padi Inpari 7 Lanrang ini memiliki tingkat produksi tinggi, agak tahan terhadap HDB ras III, agak rentan ras IV dan VIII, agak tahan penyakit virus tungro varian 013, cocok ditanam pada ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl.

b. Inpari 8 termasuk padi sawah yang memiliki rumpun tanaman yang agak tegak, adalah golongan Cere yang berumur 125 hari setelah tanam, bertipe tanaman tegak, dengan tinggi ±113 cm. Varietas ini mempunyai bentuk gabah panjang dan ramping, warna gabah kuning bersih, bobot gabah 27,4 g/1000 butir, dan jumlah anakan produktif ±19 anakan/rumpun. Rata-rata varietas ini mencapai 6,25 ton GKG/ha, tekstur nasi pulen, dan kandungan amilosa 21%, cocok ditanam di lahan irigasi dengan ketinggian 600 m dpl, agak tahan penyakit HDB ras III dan penyakit tungro inokulum No. 073; tahan penyakit tungro inokulum No. 013 dan 031.

c. Inpari 9 Elo termasuk padi sawah berumur 125 hari, bertipe tanaman tegak, tinggi ±113 cm. Varietas ini mempunyai bentuk gabah panjang dan ramping, warna gabah kuning bersih, dengan bobot gabah 22,8 g/1000 butir, jumlah anakan produktif ±18 anakan/rumpun. Keunggulan varietas ini mempunyai tekstur nasi pulen, kandungan amilosa 20,46 %, rata-rata produksi 6,41 ton GKP/ha. Cocok ditanam di lahan irigasi dengan ketinggian 600 m dpl. Agak tahan penyakit HDB ras III dan tungro inokulum No. 073, 031, 013.

d. Inpari 36 Lanrang ini dilepas tahun 2015 dengan umur ± 114 hari setelah sebar. Selain tahan terhadap tungro varian 073 dan tahan penyakit blas ras 033 dan ras 073, varietas Inpari 36 Lanrang nasinya bertekstur pulen. Untuk potensi hasilnya bisa mencapai 10,0 t/ha GKG dengan rata-rata hasil ± 6,7 t/ha GKG.

e. Inpari 37 Lanrang termasuk padi sawah berumur 136 hari, bertipe tanaman tegak, tinggi ±113 cm. Varietas ini mempunyai bentuk gabah ramping, warna gabah kuning bersih, dengan bobot gabah 22,8 g/1000 butir, jumlah anakan produktif ±18 anakan/rumpun. Keunggulan varietas ini mempunyai tekstur nasi pulen, kandungan amilosa 25,00%, rata-rata produksi 6,30 ton GKP/ha, dengan potensi hasil 9,1 ton/ha Cocok ditanam di lahan irigasi dengan ketinggian 600 m dpl. Agak tahan penyakit HDB strai III dan IV, tungro inokulum No. 073, dan agak tahan blas ras 0073 dan ras 033.

Beberapa pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya :

a. Penggunaan varietas unggul baru tahan tungro, penggunaan varietas lama secara terus-menerus oleh petani mengakibatkan Ketahanan yang dimiliki oleh varietas padi sudah rentan terhadap dua virus tungro yaitu RTSV (Rice Tungro Spherical Virus) dan RTBV (Rice Tungro Bacilliform Virus). Rice Tungro Virus terdiri dari virus berbentuk Batang (RTBV) dan berbentuk Spiral (RTSV) tidak berkembang pada tubuh wereng hijau, virus tersebut tidak menular pada telur dari vector virus dan hilang pada saat vector ganti kulit. Virus hanya tinggal sementara pada vektor. Wereng hijau yang telah mendapatkan virus segera dapat menularkan virus secara terus menerus (Ling, 1987).

b. Tanam serempak, dengan luasan minimal 20 ha akan memperpendek waktu keberadaan sumber inokulum atau waktu perkembangbiakannya

c. Kombinasi strategi pengendalian yang ramah lingkungan, diantaranya pestisida nabati untuk mengendalikan populasi wereng hijau Nephotettix virescens yang merupakan vektor dari penyakit tungro. Pestisida nabati yang dikembangkan oleh Loka Penelitian Penyakit Tungro yaitu dengan memanfaatkan ekstrak sambilata dan cendawan entomopatogen berupa cendawan Metarhizium anisopliae dengan sebutan larutan andrometa. Ekstrak sambilata merupakan pestisida nabati yang berasal tanaman sambiloto. Fungsi dari sambiata ini sebagai anti feed (penolak makan) serangga dikarenakan aroma yang dikeluarkan dari ekstrak tanaman sambioto yang tidak disenangi oleh serangga vektor. Hasil penelitian Kusdiaman dan I Nyoman Widiarta (2008) bahwa aplikasi ekstrak daun sambilata pada konsentrasi 1000 ppm mempengaruhi lokasi mengisap wereng hijau dari floem ke jaringan kayu (xylem). Sehingga dapat dikatakan bahwa aplikasi ekstrak daun sambilata dapat mengurangi kemampuan wereng hijau dalam mendapatkan dan menularkan virus tungro yang berkembang biak di jaringan floem.

Sedangkan cendawan Metarhizium anisopliae merupakan salah satu cendawan entomopatogen yang telah lama digunakan sebagai agen hayati dengan cara kerja menginfeksi beberapa jenis serangga di lapangan.

Cara pembuatan larutan pestisida ini dengan mencampur ekstrak sambilata dan larutan jamur metarhizium. Ekstrak sambilata didapatkan dari perendaman daun sambilata dan batang kering dalam alkohol untuk melepaskan klorofil daun. Larutan metarhizium didapatkan dari hasil isolasi jamur entromopatogen M. anisopliae ke dalam larutan air agar terlarut sempurna. Kedua larutan ini dicampur dan dapat diaplikasikan sebagai pestisida nabati pada pertanaman padi untuk mengendalikan wereng hijau sebagai vektor penyakit tungro.

Sumber:
- Juknis Loka Penelitian Penyakit Tungro 2020