JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Pemanfaatan Limbah Pertanian Sebagai Pakan Ternak Ruminansia

Pin It

Apa itu silase? silase merupakan pakan hijauan ternak yang diawetkan yang disimpan dalam drom plastik atau kantong plastik yang kedap udara dan sudah mengalami proses fermentasi dalam keadaan tanpa udara atau anaerob. Proses silase ini melibatkan bakteri-bakteri atau mikroba yang membentuk asam susu, yaitu Lactis Acidi dan Streptococcus yang hidup secara anerob dengan derajat keasaman 4 (pH 4).

Melimpahnya limbah hasil pertanian khususnya jagung pada musim panen merupakan suatu kesempatan bagi peternak untuk menyimpan pakan cadangan untuk persiapan di musim kemarau. Tapi bagaimana caranya pakan tersebut yang disimpan tidak kering dan nilai gizi atau protein tidak berkurang, dan pakan tersebut dapat disimpan selama 1 bulan, 2 bulan atau 6 bulan bahkan 1 tahun. Untuk itu diperkenalkan salah satu teknologi pengawetan pakan dari limbah jagung untuk pakan ternak yaitu Silase.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat silase yaitu:
a. Brangkas jagung sebanyak 30 kg.
b. Probiotik 50 ml (5 tutup botol)
c. Bekatul sebanyak 3 kg (10% dari 30 kg brangkas jagung),
d. Molasses sebanyak 500 ml, e. Air secukupnya.

 

Alat yang dibutuhkan adalah:
a. Timbangan berdiri untuk menimbang brangkas jagung,
b. Timbangan duduk untuk menimbang bekatul,
c. Ember untuk mencampur molasses dan probiotik serta air,
d. Drum plastik untuk silo, katup sebagai pengunci tutup drum,
e. Parang/pisau untuk mencincang brangkas jagung,
f. Terpal untuk alas

Pembuatan silase dapat dilakukan dengan cara menimbang semua bahan yaitu brangkas jagung sebanyak 30 kg, bekatul 3 kg, molasses sebanyak 500 ml dan probiotik sebanyak 50 ml. Cincang brangkas jagung menjadi potongan-potongan kecil, lalu hamparkan brangkas jagung di atas lantai yang bersih.

Campur probiotik, molasses dan air dalam ember yang bersih, kemudian percikan pada brangkas jagung secara merata. Taburkan bekatul pada brangkas jagung secara merata. Tambahkan air jika tingkat kebasahan campuran kurang dan belum merata. Aduk/campur semua bahan secara merata dengan membolak-balikkan brangkas jagung.

Masukkan hasil campuran ke dalam drum (silo) sedikit demi sedikit, sambil dipadatkan (diinjak-injak), agar udara yang ada dalam drum dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali.

Setelah semua bahan campuran dimasukkan, maka silo ditutup dengan katup serapat mungkin, agar tidak ada udara yang masuk dan proses ensilase (pembuatan silase) secara an-aerob berjalan baik. Bila dalam proses pembuatan silase suasana kedap udara tidak 100% maka bagian permukaan silase sering terkontaminasi dan ditumbuhi oleh bakteri lain yang merugikan seperti bakteri Clostridium tyrobutyricum yang mampu mengubah asam laktat menjadi asam butirat (Driehuis dan Giffel 2005).

Diamkan hingga 14-21 hari, letakkan di tempat yang tidak terkena hujan dan sinar matahari secara langsung. Pada hari ke-14, buka tutup silo untuk memeriksa kondisi brangkasan jagung, periksa brangkasan jagung tersebut, jika tercium bau beraroma seperti tape dan suhu brangkasan + 370-380C maka proses pembuatan silase berjalan dengan baik.

Untuk hasil maksimal, maka drum/silo ditutup kembali dengan rapat dan dibiarkan hingga hari ke-21. Pada hari ke-21, buka silo dan periksa kembali, proses pembuatan silase dari brangkasan jagung dinyatakan berhasil jika saat silo dinuka tercium aroma seperti tape dengan suhu normal (+ 370-380C). Silase kemudian dikeluarkan dari drum untuk diangin-anginkan. Setelah dianging-anginkan silase siap diberikan ke ternak sebagai pakannya. Jumlah silase yang diberikan untuk ternak sesuai dengan kondisi ternak yang dimiliki, pada umumnya jumlah silase untuk pakan 20% dari bobot badan sapi.

Teknologi ini sangat tepat untuk diterapkan di lokasi pasca bencana dan sangat sederhana serta mudah untuk diterapkan oleh petani karena limbah yang digunakan ada di sekitar lingkungannya serta biayanya juga cukup murah. Dengan teknologi ini diharapkan dapat membantu peternak dalam menyiapkan cadangan untuk pakan ternaknya di saat mengalami kesulitan pakan untuk ternak yang dipeliharanya. Jayalah Pertanian Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Bacaan:
-Alamsyah, R. 2005. Pengolahan Pakan Ayam dan Ikan Secara Modern. Penebar Swadaya. Bogor Anonim, 2014. Laporan Hasil Analisa Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan. Bekasi.
-Bunyamin Z, Roy Efendi Dan N.N. Andayani, 2013 Pemanfaatan Limbah Jagung Untuk Industri Pakan Ternak Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian.
-Djanah D.1985. Beternak Ayam dan Itik. CV. Yasaguna. Jakarta.
-https://agroteknomandiri.blogspot.com/2012. Berapa Ton Jerami dalam 1 Hektar.
-IPB, 2014. Laporan Akhir Kegiatan Pengembangan Teknologi Pakan Ternak di Kabupaten Bangka Barat. 2014. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bangka Barat dengan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
-Rahadi S. 2008. Pembuatan Amoniasi Urea Jerami Padi. Sulawesi Selatan.

-Sirait J dan K. Simanihuruk. 2010. Potensi dan Pemanfaatan Daun Ubikayu d.an Ubi jalar sebagai Sumber Pakan Ternak Ruminansia Kecil. Loka Penelitian Kambing Potong. Sumatera Utara.
-Widayati E dan Widalestari Y. 1996. Limbah untuk Pakan Ternak. Trubus Agrisarana. Surabaya.
-Yani Y., 2011. Pemanfaatan Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak Ruminansia. pertanian293.blogspot.com